Opini

Antara Hendropriyono, Kearab-arabannya Sultan Hamid II dan Baswedan serta Masa Depan Korupsi di Indonesia

Antara Hendropriyono, Kearab-arabannya Sultan Hamid II dan Baswedan serta Masa Depan Korupsi di Indonesia
Cakepnya Sultan Hamid

Lalu mengapa generasi millenial “zaman now” di negara ini begitu bangga dan menikmati kondisi pembentur-benturan antara anak bangsa Indonesia yang keturunan Arab dan keturunan Tionghoa? Kenapa ya? Lahir istilah yang tidak bermarwah: cebong, kadrun? Masya Allah. Tidak tega ini terjadi di kalangan milenial penerus “zaman next”.

Apakah kalian dan kita semua ini tidak lelah dan sedih menyaksikannya?

Dua saudara saling diadu domba di depan mata kita. Kita justru ikut memanas-manasi situasi atau menjadi dua kutub yang seolah-olah saling bermusuhan?
Tidakkah kita berfikir dan menyadarinya, bahwa kita itu sudah menjadi target bagi mereka untuk diseret-seret dalam masalah yang mereka design? Melalui ketidakharmonisan negeri ini, mereka dapat menutupi kasus-kasus korupsi di negara tercinta ini dan tetap menjadikannya tradisi?

Mestinya, kita sebagai generasi milenial yang kekinian menyadarinya. Kenapa kita diseret-seret dalam arus perseteruan antarkelompok-kelompok tertentu dan negeri ini dibuat untuk tetap tidak damai, diciptakan siasat adu domba antar kelompok masyarakat?