Ingat kata-kata dari dosa terbesar kepada negara, mengingatkan kita kepada kata-kata dalam pledoi Sultan Hamid II, [“Apakah kejahatan yang paling besar dalam suatu negara? Kejahatan terhadap perorangan? Atau suatu golongan orang-orang? Atau terhadap negara? Tentu kejahatan terhadap negaralah yang paling besar”. . . . . “Saya tetap merasa berbahagia sebagai Putera Indonesia yang telah mendapat kehormatan yang sebesar-besarnya untuk dapat turut serta di dalam perjuangan mencapai Kemerdekaan Bagi Nusa dan Bangsa, Jakarta, 25 Maret 1953, Sultan Hamid II.” Semoga Indonesia tetap aman dan damai, aamiin.]
Jadi mengapa kita begitu takut dengan putera Indonesia keturunan Arab, khususnya yang masih hidup, sosok Baswedan itu? Dari zaman Sultan Hamid II sampai zaman Munir Said Thalib dan Novel Baswedan? Orang orang pemberani dan amanah seperti mereka selalu menjadi ancaman. Disengaja atau tidak, karakter seperti mereka itu telah disia-siakan dan dikorbankan untuk menjadi benteng dan pondasi bagi marwah negara ini untuk tegak berdiri.
Mengapa harus mencurigai para anak bangsa Indonesia keturunan Arab?
Apakah mereka ikut menikmati remah remah kue hasil korupsi? Ataukah kue korupsi justru merupakan sari-sari gizi bagi tubuh rakyat-rakyat kecil, sehingga kita pantas untuk melindunginya?
