Dalam beberapa butir pernyataan pokok Khittah (garis besar perjuangan) di atas secara jelas menerangkan netralitas Muhammadiyah secara kelembagaan atau institusional terhadap kontestasi politik yang ada. Sedangkan terhadap pembangunan bangsa dalam arti yang lebih luas, “Muhammadiyah senantiasa bekerjasama dengan pihak atau golongan mana pun berdasarkan prinsip kebajikan dan kemaslahatan, menjauhi kemudharatan…” Peran dalam kehidupan bangsa dan negara tersebut diwujudkan dalam langkah-langkah strategis dan taktis sesuai kepribadian, keyakinan dan cita-cita hidup dalam mewujudkan “Baldatun Thoyyibatun Wa Rabbun Ghafur”.
Tadi malam Jum’at, 22 Maret 2019 berlangsung agenda Diskusi atau disebut Pengajian Fastabiq #1 yang dilaksanakan oleh AMM Kalimantan Barat. Agenda diskusi yang berada di Aula Gedung Dakwah Muhammadiyah Kalbar ini mengusung tema tentang “Menjelang Pemilu 2019, Dimana Posisi AMM?”. Agenda pengajian atau diskusi semacam ini direncanakan akan berlangsung terus menerus oleh Angkatan Muda Muhammadiyah.
Dalam konteks tema diskusi pertama ini, diharapkan agar generasi muda Muhammadiyah di Indonesia, atau di Kalimantan Barat khususnya mengetahui posisi strategis kader Muhammadiyah sebagai organisatoris atau kelembagaan maupun secara person atau individu dalam menentukan sikap, pilihan, dan tindakan dalam rangka menghadapi tahun politik di Pemilu 2019.
