Opini

Kesaksian Tokoh Adat Dayak Taman terhadap Sultan Hamid: Pandai Bergaul-Memberikan Beasiswa

Kesaksian Tokoh Adat Dayak Taman terhadap Sultan Hamid: Pandai Bergaul-Memberikan Beasiswa
Baroamas Djabang Balunus Massuka Djanting (kiri) bersama Sekretaris Pribadi Sultan Hamid, Max Jusuf Alkadrie (kanan).

Ini adalah bagian tulisan saya tentang Massuka dan di dalamnya dia bercerita bahwa dirinya adalah “didikan” Hamid di mana dia diberikan beasiswa, diberikan beberapa hadiah sebagai kenangan hidup, serta kemampuan keilmuannya tentang adat sangat dihargai. Massuka saksi hidup yang saya wawancarai karena dia diundang ke Hotel Des Indes yang keramat itu. Saya sebut keramat karena di Hotel Des Indes Sultan Hamid berdomisili selama dinas di kabinet RIS, dan di sana pula dia ditangkap pada tahun 1950 dengan tuduhan makar – buntut dari peristiwa APRA . pimpinan Westerling.

Kisah tentang Massuka yang menjadi tokoh kebudayaan Kalbar tahun 2014 itu dibukukan pula secara internal sebagai laporan kerja dewan juri kepada Biro Sosial Pemprov Kalbar. Berikut petikannya:

[Massuka Djanting-Budayawan dari Taman]
Penampilannya nyentrik. Rajin membaca. Koran lokal maupun nasional habis dilahapnya setiap pagi. Oleh karena itu isu-isu nasional dan internasional tak luput dari pengetahuannya.

“Saya bukan ilmuwan. Saya adalah polisi, Brimob, Menpor,” ungkap pria yang nama kecilnya adalah Baroamas yang berarti harimau emas. Lebih dari lima tahun dia bergerilya di perbatasan dengan Anton Soedjarwo (kelak menjadi Kapolri) yang dinobatkannya sebagai gurunya.