Opini

Kesaksian Tokoh Adat Dayak Taman terhadap Sultan Hamid: Pandai Bergaul-Memberikan Beasiswa

Kesaksian Tokoh Adat Dayak Taman terhadap Sultan Hamid: Pandai Bergaul-Memberikan Beasiswa
Baroamas Djabang Balunus Massuka Djanting (kiri) bersama Sekretaris Pribadi Sultan Hamid, Max Jusuf Alkadrie (kanan).

Suku Dayak Taman lanjut Agustinus memiliki keragaman budaya yang sampai saat ini masih dipertahankan, seperti menganyam manik, tikar, membuat Mandau, dan tradisi kesenian seperti menari, bersyair, dan lain-lain. Satu diantara potensi yang mendukung lestarinya budaya pada suku ini ialah budaya yang umumnya sudah punah pada sub-suku Dayak di Kalimantan yaitu pola pemukiman rumah betang panjang. Dalam hal ini, setiap pemukiman orang Taman didirikan rumah adat betang panjang. Sudah tidak terhitung lagi jumlah sarjana yang lahir dari rumah betang panjang ini. Politikus kawakan seperti PalaunSoeka (alm.), Drs. S. Massardy Kaphat, Drs. Laurens Mangan, Ba’I Sawang Ama Sundin (Kepala Hukum Adat Dayak Kapuas Hulu zaman penjajahan Belanda), termasuk anaknya, Martinus Sundin, (orang Dayak Taman Pertama yang masuk agama Katolik), dan juga Baroamas Massoeka Janting (Pendiri Partai Dayak dan Anggota BPH) semuanya berasal dari suku tersebut. Selain itu, doktor pertama di Kalimantan Barat bidang hukum adat yaitu Prof. Dr. Thambun Anyang, S.H. juga berasal dari suku Dayak Taman.

Memimpin Upacara Adat
Ketika ada warga Taman yang meninggal dunia Massuka ditasbihkan memimpin upacara adat. Ia memimpin sejak jenazah dibaringkan hingga peti jenazah dimasukkan ke lubang kubur. Upacara adat pun dipimpinnya dengan bahasa Taman.