Opini

Kesaksian Tokoh Adat Dayak Taman terhadap Sultan Hamid: Pandai Bergaul-Memberikan Beasiswa

Kesaksian Tokoh Adat Dayak Taman terhadap Sultan Hamid: Pandai Bergaul-Memberikan Beasiswa
Baroamas Djabang Balunus Massuka Djanting (kiri) bersama Sekretaris Pribadi Sultan Hamid, Max Jusuf Alkadrie (kanan).

Massuka melihat banyak warga memeluk kapal terbang Catalina. Catalina mereka cium, dan Hamid hanya bisa tersenyum melihat tingkah polah rakyatnya. “Hanya satu yang tak boleh dilakukan dengan Catalina, yakni meneropong.” Suatu hari saya dipanggil Syarif Thaha. Saya berdebar debar ada apa? Saya takut telah melakukan kesalahan. Namun saya berangkat dan menemui Syarif Thaha yang ternyata Sultan Hamid II minta bantuan saya mengenali siapa-siapa yang tampak dalam foto perjalanannya di Kapuas Hulu dan Sintang.

Kata Massuka, dia pernah diajak minum oleh Hamid. Seusai minum dia diberikan oleh-oleh berupa gelas di mana ada aksara Arab di bawahnya. Massuka pun sangat bangga kepada Sultan Hamid II yang akrab dengan rakyatnya seperti dirinya. Oleh karena itu gelas hadiah Sultan Hamid II ini menjadi bagian dari sejarah hidupnya. Kemana-mana Massuka pergi bergerilya selalu dibawa.

Selain hadiah gelas, Hamid bertanya, “Ada uang untuk sekolah?” Massuka jawab, “Tidak…” Kemudian dia memberikan beasiswa sebesar Rp 5 plus tunjangan. Saat itu lima rupiah sudah besar. Dalam pandangan Massuka Djanting, Sultan Hamid II adalah orang yang suka bergaul. Orang baik. Bukan baik dan bergaul dengan dirinya saja, tapi juga kepada siapa saja.*