Opini

Pahlawan Nasional Sultan Hamid II Alkadrie–Peradilan Ulang Secara Fair dan Adil

Pahlawan Nasional Sultan Hamid II Alkadrie–Peradilan Ulang Secara Fair dan Adil

Kembali kepada pengajuan Sultan Hamid II Alkadrie sebagai pahlawan nasional, jasanya tak terperikan. Mulai dari membesuk Soekarno-Hatta dan KH Agus Salim yang diasingkan Belanda di Muntok–Kepulauan Riau. Kemudian keluarlah Soekarno-Hatta dan KH Agus Salim dari tawanan. Jasa Sultan Hamid II itu tak direken Negara sebagai bentuk perdjoeangan nasional? Telah menyelamatkan dwi tunggal–Sang Proklamator? Masuk ke tahap Konferensi Inter Indonesia di Yogyakarta dan Jakarta dengan semangat federalis-unitaris yang amat sangat kekeluargaan khas Indonesia–disebut-sebut Hatta amat sangat akrabnya–tidak pula dihitung sebagai perdjoeangan nasionalisme keindonesiaan yang menyatukan? Hingga Sultan Hamid turut tanda-tangan Konferensi Meja Bundar yang menyebabkan kedaulatan Indonesia diakui. Tidak jugakah di-account-sebagai jasa Sultan Hamid untuk merebut kemerdekaan Indonesia secara diplomatik? Bergabungnya 15 negara bagian anggota BFO yang jauh lebih luas daripada Negara Republik Indonesia–coba hitung berapa kilometer tanahnya saja? Hitung tambangnya? Flora faunanya? Manusianya? DIKB saja saat bergabung–baca baik-baik luasnya 146 Km2! Lebih luas daripada Jawa gabung Bali dan Madura! Tak terhitung berapa triliun kali triliun rupiahnya, semua itu untuk nasionalisme kebangsaan Indonesia. Apakah norma pahlawan nasional hanya mereka yang gugur bersimbah darah karena berperang? Bukankah ahli sejarah Universitas Indonesia, Prof Dr J Leirissa menyebutkan BFO sebagai kekuatan ketiga antara RI dan Belanda yang diperhitungkan? Yang menyumbang tak terperikan. Tidakkah dilihat bagaimana hebatnya negarawan diplomat Sultan Hamid II dengan usia mudanya bisa menjembatani hal paling kusut dan kompleks setelah proklamasi kemerdekaan 17/8/1945–menjembatani dua hegemoni besar Indonesia dan Belanda–dan sukses besar–sebagai amal ibadahnya untuk Indonesia Merdeka dan berdaulat secara penuh? Bukalah buku sejarah. Jika saat itu KMB gagal, mengutip Hatta, entah apa jadinya Indonesia. Perang yang tak berkesudahan antara RI dan Belanda. Nusantara banjir darah dan air mata. Mungkin kerajaan-kerajaan di Nusantara juga akan tetap sebagai negara berdiri sendiri. Nusantara tak seperti kita kenal sekarang. Tidakkah dihitung sebagai jasa Hamid pula? Prof Dr Meutia Hatta dalam webinar yang diselenggarakan MPR RI tentang Hamid pahlawan atau pengkhianat negara menyebutkan hasil KMB itu “blessing in disguise” terhadap luas negara yang di dalam Perjanjian Renville maupun Linggarjati — kesepakatan resmi delegasi RI-Belanda–hanya daerah-daerah tertentu: khususnya Jawa dan Sumatera. Toh dalam dua perjanjian itu juga sudah disepakati federalisme demokrasi? Meutia pun dengan blak-blakan berkata, “Sepanjang masa hidupnya tidaklah pernah keluar dari mulutnya bahwa Sultan Hamid II itu pengkhianat negara.” Jelas dan klir ini semua. Dr HC Drs Moh Hatta adalah sosok paling jujur di pentas politik Indonesia saat itu, persis sebagaimana yang kita kenal hingga kini. Ia tidak rakus kekuasaan. Bahkan sebagai orang nomor dua di Republik, ia sedia mundur dari posisi Wapres demi memberikan kesempatan kepada Soekarno menjalankan visi-misinya secara lebih leluasa. Ada muatan protes sebenarnya dari Hatta kepada Bung Karno yang menyingkirkan tokoh-tokoh nasional yang tidak dipandang sehaluan. Salah satunya haluan federalis vs unitaris. Antara kubu persatuan dan kesatuan. Selain Hamid–sahabat Hatta–juga Soekarno memenjarakan sedemikian banyak sahabat-sahabatnya yang lain. Tetapi belakangan dengan koreksi sejarah semua dinobatkan sebagai pahlawan nasional termasuk Ide Anak Agung Gde Agung–Raja Gianyar si empunya ide awal membentuk BFO yang katanya boneka ciptaan Belanda. Toh Ide Anak Agung Gde Agung lolos sebagai pahlawan nasional, kenapa Hamid sang Ketua BFO tidak? Ini ganjal dan ganjil sekali. Kenapa Tan Malaka yang nasionalis-komunis bisa lolos sebagai pahlawan nasional? Kenapa Soekarno dengan nasakom-nya di mana komunis dilarang di Indonesia juga pahlawan nasional? Bukankah realitas logika kita hancur lebur dibuatnya–tentang pahlawan nasional ini. Bukankah pahlawan nasional lolos dari sisi positifnya? Tidakkah hasil-hasil perjuangan Hamid amat sangat positif dan kontributif?