Hal di atas jelas, menggambarkan bagaimana patriotnya seorang Sultan Hamid II. Tegas berprinsip, namun humanis dalam interaksi bersama para bapak bangsa. Kalau dianggap tak berprikemanusiaan, tak mungkin Sultan Hamid II menolong Sutan Sjahrir ketika terkapar sakit seperti yang dijelaskan Hamid Algadri dalam memoarnya itu.
Sultan Hamid II memang memiliki kekurangan-kekurangan dalam dirinya sebagai manusia. Tapi, itu juga dimiliki oleh pahlawan-pahlawan bangsa lainnya di Indonesia. Tak ada manusia sempurna. Tapi yang utama, Sultan Hamid II bukanlah seorang yang keji seperti diceritakan oleh para pendendam-pendendam yang ada di negara kita saat ini. Sultan Hamid II berhati besar, walaupun dijungkirbalikkan pihak-pihak yang menstereotipekan karakternya sebagai seorang yang buruk.
Sultan Hamid II, bukan pula seorang pendendam. Walaupun beberapa kali dijebloskan ke penjara oleh Rezim kala itu, dia ikhlas menjalankannya. Dia tak mengambil hati semua keadaan yang ada.
Sikap ini dibuktikan pada tulisan HM. Max Yusuf Alkadrie, seorang mantan Sekretaris Pribadi Sultan Hamid II dalam buku bunga rampai berjudul “Bung Karno Bapakku Guruku Sahabatku Pemimpinku (Kenangan 100 Tahun Bung Karno), oleh penerbit Grasindo Jakarta tahun 2001. Max menulis artikel di buku tersebut dengan sub judul “Teladan Generasi Bung Karno-Saling Hormat dan Santun Dalam Berpolitik”.
