Dalam tahanan di Madiun itu, interaksi Sultan Hamid II dengan para tokoh bangsa, cukup lama. Bagaimana tidak, selama empat tahun bersama-sama melakukan aktifitas dalam jeruji besi. Sultan Hamid II, kabarnya, memang tak begitu disukai karena sikapnya yang formal, tegas, dan cukup emosional. Di sisi lain, terlalu disiplin (ala militer), dan serius. Tokoh republik tak banyak yang menyukainya, termasuk Sutan Sjahrir. Dalam memoar itu, Hamid menyebut bahwa “..pertemuan Sutan Sjahrir bersama Sultan Hamid II kurang menyenangkan, dipenuhi suasana formal.. Ketika saya menanyakan pertemuan Sjahrir bersama Sultan Hamid II, tampak kurang terkesan..”. Tapi belakangan pendapat Sjahrir terhadap Sultan Hamid II sangat berubah, kata Hamid.
“Itu terjadi ketika Sjahrir ditahan bersama Sultan Hamid dan beberapa orang pimpinan Masyumi. Selama dalam tahanan, Sjahrir menderita sakit darah tinggi. Pada suatu hari, ketika berada di kamar kecil, ia jatuh pingsan. Satu-satunya orang yang melihat kejadian ini lewat jendela kamar tahanan Sjahrir adalah Sultan Hamid. Ia masuk ke kamar Sjahrir dan mengangkatnya dari atas kloset ke tempat tidurnya, dan kemudian membersihkan badannya dari semua kotoran yang melekat. Cerita ini saya dengar dari Sjahrir sendiri ketika saya mengunjunginya di tempat tahanan,” ujar Hamid.
