Sultan Hamid II, orang baik. Dia sampaikan dalam Pledoi-nya tahun 1953 bahwa “..saya tetap merasa berbahagia sebagai putera Indonesia, yang telah mendapat kehormatan sebesar-besarnya untuk dapat turut serta di dalam perjuangan mencapai kemerdekaan bagi nusa dan bangsa. Bagaimanapun bunyinya putusan Mahkamah Agung nanti, apakah saya akan bebas ataupun akan dijatuhi hukuman, tenaga saya tetap saya sediakan, apabila kelak negara membutuhkannya..”. Seorang patriot bangsa, tak mungkin membahasakan keinginannya untuk tetap berkontribusi, bila sudah terzalimi oleh negeri yang dia cintai.
Sultan Hamid II orang baik. Kalau tidak, tak mungkin banyak orang yang berinteraksi dengannya, kemudian memuji tindak, sikap, dan tuturnya selama berjalannya sejarah bangsa ini. Kita lihat pandangan Sutan Sjahrir dalam Memoar Mr. Hamid Algadri tentang Sultan Hamid II, dalam buku berjudul “Mengarungi Indonesia, Memoar Perintis Kemerdekaan” yang dibuat oleh Mr. Hamid Algadri, Kakek dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI saat ini, Nadiem Makarim.
