Max menyebut hal itu merupakan pengalaman paling berkesan di antara dua tokoh yang berlawanan politik ini, tidak ada dendam di antara mereka. Bahkan walaupun berseberangan secara politik tidak membuat keadaan sebagai masalah lama yang tak terpecahkan. Sultan Hamid II juga tak memelihara kekecewaannya tersebut kepada penguasa hari itu, bahkan ikhlas menerima perlakuan tidak adil yang dilakukan oleh sebagian bangsanya sendiri.
Hal itu sepatutnya kita lakukan hari ini. Tidak memelihara dendam lama. Melakukan rekonsiliasi bangsa, merekonstruksi sejarah negara. Dan meresolusi semua keadaan yang ada. Kami tak memiliki tendensi apa-apa, melainkan, sekali lagi kami sebutkan bahwa kami ingin meluruskan sejarah bangsa kita. Agar generasi penerus, ke depannya, tidak lagi memelihara sentimen sejarah politik negara. Persatuan akan terpelihara, bila semua memahami perbedaan-perbedaan yang sudah ada, sejak dahulu kala.
Salam takzim kami, untuk masyarakat Indonesia, Kalimantan Barat, Pontianak, yang terus mendukung perjuangan pelurusan sejarah bangsa kita. Untuk meletakkan penghormatan setinggi-tingginya kepada Pahlawan Kita, Perancang Lambang Negara – Garuda Pancasila, Sultan Hamid II.
Pontianak, 18 Juni 2020.
Yayasan Sultan Hamid II.
AD.
