Lihat ayat ini teman-teman. Banyak orang berdebat, banyak bacot karena banyak ilmu. Marah-marah, berdebat, berkelahi, saling tunjuk. Kalau Kak Iya, Fayad, Fatih bekelai saya tau masalahnya. Lapar. Nah, umat ini juga begitu. Lapar perutnya atau lapar eksistensi. Minta follower, minta dihargai. Kalau minta hargai berarti die? Tidak berharga. Masak orang kaya sedekahnya 20ribu? Antum harusnya sedekah 20ribu perdetik. Sombong pada orang sombong sedekah. Kalau 2017 boleh saya nunduk, sekarang gak bisa. Gebrak die, antum udah buat ape untuk umat ini. Nangis die, curhat.
Cobalah tengok dunie tuh. Sampah sekali. Masak antum berjuang mati-matian untuk dunie tuh. Jangan antum jadi penyembah berhala. Begitu kita mati itu, orang yang kenal kita sekilas itu, hanya bisa bilang kasian. Terus nama antum sebagai CEO, pendiri ini, pendiri itu, orang pasti mencari siapa penggantinye. Orang-orang yang dekat sama kita, nangislah. Istri nangis. Tapi teman-teman, dari sekian banyak yang nangis itu, paling 3 hari, 4 hari. Setelah itu memikirkan yang lain.
