Saya jumpa pertama kali saat bekerja di Volare 103 FM tahun 1997. Ketika itu Om Max intensif memasok iklan. Hubungannya dengan Bos Volare, H Amiruddin Manaf, sangat lekat. Saat muda itu, Om Max kategori tokoh Kalbar yang sukses di Jakarta nan ditakuti banyak anak muda. Termasuk para penyiar.
Kenapa mereka pada takut dengan Om Max? Karena kritik-kritiknya pedas. Jika tak terbiasa menerima kritik, kuping dipastikan merah. Nah, daripada kena semprot soal vokal yang tak beres, perihal wawasan yang sempit dalam bersiaran di udara, lebih baik menghindar.
Saya beruntung pada dua hal. Pertama bahwa saya bukan penyiar. Dengan demikian saya hanya pendengar. Ya mendengarkan “ceramah” Om Max kepada kekawan seraya melakukan penilaian. Bahwa sesungguhnya apa yang diceramahkan Om Max adalah benar adanya. Hal itu apabila kita mau maju dan profesional. “Budak Pontianak tu tak bise dibilang baek-baek tadak akan berobah. Kalo dikritik pedas macam ditampar, baru bisa berubah,” katanya seraya menjelaskan gaya tersebut ditirunya dari Sultan Hamid.
