Opini

Momen Indah Bersama Om Max

Momen Indah Bersama Om Max
Kiri ke kanan: Drs H Soedarto, Max Jusuf Alkadrie, MBA, Dwi Syafriyanti, Anshari Dimyati, Turiman Faturrahman Nur dan Nur Iskandar saat FGD tentang Hamid Alkadrie di Pusdiklat TOP Indonesia.

***
Sebelum mengenal Om Max di Volare, saya sudah mengenalnya di saat awal kuliah 1992. Hal ini tak terlepas dari pertemanan bersama Syafaruddin Usman ketika mengelola tabloid mahasiswa Mimbar Untan. Syaf yang kini Ketua DHD ’45 gandrung dengan sejarah. Nama Max Jusuf Alkadrie kerap kali disebut-sebutnya.

Hal itu tidak mengherankan, karena Syaf menjadi wartawan Akcaya-Pontianak Post, sementara Om Max adalah Kepala Biro Iklan Akcaya-Pontianak Post di Jakarta. Saya kerap kali membaca nama Max Jusuf Alkadrie dalam box redaksi koran terbesar di Kalbar, anak Jawa Pos tersebut.

Interaksi bersama Om Max menguat ketika kami di Mimbar Untan membuat laporan utama tentang Siapa Perancang Lambang Negara.

Om Max mengirim buku tentang proses peradilan Sultan Hamid II. Kemudian setiap kali ada buku terkait Sultan Hamid, dia menggandakan, dan membagikan salinannya. “Ya Allah, janganlah saya mati sebelum biografi lengkap tentang Sultan Hamid II dibukukan,” ungkapnya dalam diskusi terfokus di kantor Pusdiklat TOP Indonesia menjelang 2013. Pada 2013 genap 100 tahun umur Sultan Hamid.

Ternyata benar. Alhamdulillah. Pada 2013, buku biografi Sultan Hamid II berjudul autobiografi politik dapat diterbitkan. Ditulis oleh Anshari Dimyati, Turiman Faturrahman Nur dan saya. Om Max turut memberikan sambutan bersama Oesman Sapta Odang (OSO).