Suasana paling haru bagi diri saya pribadi bukanlah saat seminar berlangsung di ruang Fraksi Nasdem dengan narasumber Prof Dr Andi Hamzah (pakar hukum pidana Universitas Indonesia), tetapi menjelang sarapan pagi, Om Max meminta kepada Tante Yeti–istrinya–untuk mengeluarkan sebuah dokumen penting. Dokumen itu diambil dari dalam lemari kaca. Dokumen itu dalam sebuah figura. Apalagi kalau bukan karya tangan Sultan Hamid II.
“Inilah rancangan lambang negara yang asli karya Sultan Hamid yang ente temukan dalam bentuk fotokopian di kediaman Ustadz Asfiah Mahyus,” kata Om Max. Saya tertegun. Bahwa sejak 1994, dalam kurun 20 tahun, baru saya benar-benar melihat karya aslinya itu.
Selain menunjukkan karya Hamid, Om Max juga menunjukkan perpustakaan pribadinya. Penuh dengan buku. Tipikal pembaca dan pembelajar.
***
Om Max rajin menjalin silaturahmi. Jika ke Pontianak, tidak lupa dia mampir ke kediaman sohibnya Massuka Janting hingga Soedarto. Keduanya “pergi” mendahului Om Max.
Om Max juga rajin mengunjungi sahabatnya yang lain, HA Halim Ramli dan Prof Dr Syarif Ibrahim Alkadrie. Bahkan ketika pendamping hidup Prof Dr Syarif Ibrahim Alkadrie wafat, dimakamkan di pemakaman muslim Tanjung Raya, Om Max turut hadir. Turut mengantar jenazah dari Jakarta.
