Di malam hari seusai persiapan ruang pameran, saya bermimpi. Seorang pria berjubah dan bersorban putih berada di halaman Mesjidil Haram daerah Bukit Marwah. Persis daerah yang dahulu ada tugu jam dan tempat di mana jamaah bersedekah kepada burung merpati.
Saya berada di hadapan pria bermuka tirus tersebut. Pria yang saya mimpikan itu mirip seseorang yang fotonya dipajang di Gedung Arsipda. Sosok Sultan Hamid Alkadrie I.
Pria bertubuh kurus tinggi tersebut memegang tanaman di genggamannya. Tanaman seperti bayam itu di sebelah kanan berwarna hijau, sedangkan di sebelah kiri berwarna merah. “Tanpa berkata-kata, Beliau memberikannya kepada saya.” Begitu cerita saya kepada Om Max.
Berlandaskan mimpi yang hanya saya ceritakan kepada Om Max dan istri itu, Om Max kemudian berkata, “Kalau suatu saat ke Jakarta, sama-sama kita ke makam ulama Muara Angke.”
Di saat saya menuliskan Sejarah Gegana Republik Indonesia, saya berkesempatan lama berada di Jakarta. Di suatu waktu yang kami sepakati bersama, pergilah menuju Muara Angke. Di sepanjang jalan Om Max bercerita bahwa ulama “keramat” yang setiap waktu ramai diziarahi adalah sosok luar biasa. “Beliau putra Sultan Syarief Abdurrachman Alkadrie. Sosok yang dalam mimpi bertemu ente.” Om Max yang mengenakan kopiah haji dengan syal putih di pundaknya senyum khas. Matanya nyaris tertutup.
