Banyak kebaikan-kebaikan Sultan Hamid II Alkadrie yang terus menerus hidup, menginspirasi kita selaku anak bangsa. Contoh kecerdasan Beliau. Beliau pernah kuliah di ITB. Beliau belajar matematika, fisika, kimia, dengan baik. Wajar desain lambang negara miliknya sangat simetris dan geografis. Ia bahkan belajar ilmu mesin sampai ke Israel.
Ini kalau membaca sejarah Hamid sampai ke Israel, lalu dikawinkan dengan konteks penghayatan agama kekinian, maka kelompok spesialisasi Anti Yahudi akan menggoreng informasi ini sesuka hati. Bisa-bisa Sultan Hamid II dicap pula sebagai “Antek Yahudi”. Padahal nilai yang mau kita ambil adalah nilai kebaikan/kepahlawanan dalam semangat menuntut ilmu.
Sama seperti Beliau meniti karir militer di KNIL bisa sampai pangkat Mayor Jenderal. Satu pihak menuding dia pro Belanda. satu pihak menilai dia berhasil membangun prestasi di mana anak-anak pribumi lainnya mandek. Padahal banyak sekali pribumi yang meniti karir pula di KNIL saat itu dari seluruh pelosok Nusantara.
Kemudian penguasaan beberapa bahasa asing pada diri Sultan Hamid. Ini semua kebaikan, kebajikan dalam hal keutamaan menuntut ilmu. Bukankah bahasa kunci membuka dunia? Sesuatu yang sangat dianjurkan oleh kementerian pendidikan dan kebudayaan RI. Asasi tersebut nilai edukasi ini di UUD 1945.
