Lagi pula informasi yang disajikan Sultan ke Belanda bukanlah untuk tujuan Kesultanan Pontianak membantu Belanda menyerang Indonesia. Tapi justru kecerdasan Sultan Hamid II sebagai penerus ayahnya, sebagai alumni Breda-Belanda, meniti karir sampai pangkat Mayor Jenderal, digunakan untuk sepenuh-penuhnya kepentingan Indonesia. Kesultanan yang dipimpinnya bahkan ikut bergabung dengan Indonesia. Kita simpulkan, sekali lagi, banyak sekali nilai-nilai kebaikan yang telah dilimpahkan seorang Sultan Hamid II Alkadrie bagi NKRI.
Sekarang kita kembali pada terma yang populer di Tanah Air saat ini (ikuti di Agama Akal TV, channel YouTube), bahwa Sultan Hamid II itu pahlawan atau penghianat? Bukankah sudah terang benderang ada kelompok yang menempatkan bahwa pahlawan nasional adalah kepada orang yang berjuang berdasarkan nilai kelompoknya masing-masing? Contoh kelompok Agama Akal TV yang spesialisasinya menyatakan lewat unggahan di channelnya tentang Anti Keturunan Arab dan sosok Sultan Hamid II hanya dijadikan salah satu isu bagi NKRI bagi kepentingannya. Adapun terminologi pahlawan, seseorang yang melimpahkan kebajikan, kepada Sultan Hamid II Alkadrie tak kunjung terkikis, padahal dia sudah disunjamkan dalam lumpur sejarah sejak awal kemerdekaan.
