Opini

Penetapan Sultan Hamid II Pahlawan Nasional – Menghilangkan Faktor Belanda sebagai Penetapan Gelar Kepahlawanan

Penetapan Sultan Hamid II Pahlawan Nasional – Menghilangkan Faktor Belanda sebagai Penetapan Gelar Kepahlawanan

Nashrani dan Islam di Kalbar harmonis sejak dulu sampai sekarang. Lembaga pendidikan dan dakwah agamanya tumbuh pesat secara berdampingan.
Akhir-akhir ini di Negara ini persoalan pertentangan antar kelompok semakin tajam. Menurut saya, di sinilah pentingnya sejarah, bagaimana tokoh-tokoh dahulu dapat dijadikan inspirasi tentang bagaimana pergaulan orang-orang multietnik dan agama bisa rukun dan bahkan saling bekerjasama.

Perlu diingat bahwa kerjasama dengan Belanda bagi Kesultanan Pontianak sejak tahun 1774 antara pendiri kesultanan Sultan Syarif Abdurrahman Alqadrie dengan Belanda. Sultan Syarif Abdurahman putra Habib Husein. Habib Husein menikahi Nyai Tua yang putri asli Dayak dari wilayah Selatan, yakni Ketapang.

Pada tubuh Sultan Hamid II Alkadrie mengalir darah neneknya yang Dayak, ibunya yang Hadral Maut / Arab Selatan. Hanya terminologi sekarang menggolongkan Arab yang identik dengan Islam itu Melayu. Kesultanan Pontianak dipimpin Sultan, etnik Melayu, keturunan Arab/Habib. Padahal perlu juga diingat Hamid berdarah Dayak, sehingga tak heran Beliau pro Dayak dengan membentuk Kompi Dayak yang dididik ilmu militer.