Mari kita jelajahi Kota Pontianak. Buka mata kita semua. Baca nama-nama daerah.
Kalau kita lihat di pemukiman tua di kota ini, dapatlah kita nama Kuantan, Banjar Serasan, Saigon, Siam, Kamboja, Bali, Kampung Arab, Kampung Bugis dsb … Telusurilah nama-nama tersebut. Anda akan dapatkan jiwa pluralistik sejak awal pembentukan kependudukan ibukota Kalbar ini. Jiwa federalis sudah sejak awal pembentukannya.
Lha yg namanya orang luar tentunya seijin Sultan untuk dapat tinggal di Pontianak. Mereka pun hidup rukun dan damai. Demikian juga kedatangan Belanda pertama kali di Pontianak.
Sultan Pontianak Sy Abdurachman Alkadrie menyambut baik, menandatangani kontrak politik. Mereka diberikan wilayah untuk bermukim. Di antaranyalah dibangun gereja dan sekolah.
Jika dikonversi dengan kerasnya perpecahan anak-anak Bangsa sekarang atas nama ajaran agama, tengok tetua-tetua kita, seorang Sultan, seorang Habib, para ulama besar yang menulis Quran 30 juz pakai tulis tangan, kok bisa mengijinkan pendirian Gereja? Begitupula mereka para “ulama” nashrani, memfungsikan gereja itu bukan hanya untuk orang Belanda saja, juga untuk pribumi/pendatang yang beragama katolik atau bukan untuk belajar. Belajar bertani, bertukang, menjahit, dll. Demikianlah kebijaksanaan yang sama diteruskan Sultan-Sultan pada periode berikutnya.
