Opini

Damai dengan Etika Jurnalisme dan Investigative Reporting

Damai dengan Etika Jurnalisme dan Investigative Reporting
Penulis,paling kanan bersama para wartawan yang mengikuti Indo Journalist Programe di Institute for Training and Development (ITD) Amherst, Massachussets, AS, tahun 2002.

Oleh: Nur Iskandar *

Saat itu Kalbar dilanda konflik berdarah-darah. Ada kerusuhan di wilayah pantai utara.

Peristiwa kriminal murni di malam Idul Fitri tahun 1999 berupa pencurian dan pembunuhan telah pecah sebagai “perang etnis”. Ratusan, atau bahkan ribuan nyawa melayang. Puluhan ribu rumah dan kendaraan ludes terbakar.

Situasi Kalbar pun mencekam. Ratusan ribu orang mengalir bagaikan air bah. Mereka mengungsi dari Kabupaten Sambas ke Kota Pontianak. Arang dan debu menjadi saksi sejarah kelam ini.

Fasilitas umum, terutama Gedung Olahraga (GOR) Pangsuma, Stadion Sultan Syarif Abdurrahman, Asrama Haji, hingga Stadion Universitas Tanjungpura dipenuhi massa pengungsi. Semula mereka menempati bangunan utama, namun lambat laun berdiri rumah-rumah gubuk di sekitarnya. Konflik etnik satu masalah, pengungsian menjadi masalah lain di Kota Pontianak. Angka kriminalitas di Kota Pontianak cenderung meningkat. Korban kerusuhan mendapatkan stigma yang negatif.

Dalam kacamata pers, konflik dan kekerasan adalah objek liputan yang amat sangat menarik perhatian. Kenapa? Karena menyangkut manusia. Menyangkut rasa ingin tahu. Menyangkut emosi.