Opini

Damai dengan Etika Jurnalisme dan Investigative Reporting

Damai dengan Etika Jurnalisme dan Investigative Reporting
Penulis,paling kanan bersama para wartawan yang mengikuti Indo Journalist Programe di Institute for Training and Development (ITD) Amherst, Massachussets, AS, tahun 2002.

Soal pengalaman meliput konflik, ini yang paling seru. Saya menceritakan bahwa dalam rangka meliput secara berimbang, saya sampai disandera oleh salah satu kelompok yang sedang bertikai. Resikonya, nyawa nyaris melayang karena sudah dikawal oleh pria kekar dengan menenteng senjata tajam maupun senjata api rakitan. Saya disandera di lokasi kamp pengungsian GOR Pangsuma, Pontianak pada saat pengungsi diultimatum pemerintah untuk mengosongkan kamp-kamp pengungsian menyusul pembakaran barak pengungsi di GOR Bulutangkis, Khatulistiwa tak jauh dengan GOR Pangsuma dan Stadion Sultan Syarif Abdurrahman.

Pembakaran barak pengungsi di GOR Khatulistiwa terkait dengan kasus kriminalitas di kawasan GOR dan Stadion. Seorang anak bernama Ferry, usia enam tahun, tewas dengan tangan patah serta kepala retak. Hal itu menyusul upaya perampokan kepada orang tua Ferry yang pulang kerja dari berdagang lapak makanan dan minuman ringan di Stadion Sultan Syarif Abdurrahman. Kematian Ferry ini telah menyulut kemarahan warga Purnama yang wilayahnya berseberangan dengan GOR. Stigma negatif terhadap pengungsi yang telah terstempel sejak pecah kerusuhan di Sambas mudah sekali tersulut. Masyarakat bisa bergerak “main hakim” sendiri, walaupun pada kenyataannya, pelaku perampokan itu memang adalah anak-anak remaja tanggung yang tumbuh dari kamp pengungsian. Saya meliput semua peristiwa tersebut.