Masalahnya adalah, tidak semua reporter tergolong andal ketika terjun ke wilayah konflik. Mereka kerap kali meliput tanpa azas keberimbangan. Dengan demikian berita liputannya sangat parsial. Berita seperti ini bisa menjadi bensin. Ia menjadi sangat rawan. Bisa membakar konflik menjadi lebih besar.
Begitupula ketika berita sampai ke meja redaktur. Tidak semua redaktur profesional menyunting berita. Tak jarang ketika disunting, berita menjadi lebih seram daripada kondisi objektif lapangan. Kenapa? Karena telah dibumbui dengan maksud meningkatkan oplah atau rating. Jika tidak demikian, pribadi dan subjektivitas redaktur telah terlibat di dalam berita, sehingga “digoreng” dengan sudut pandang yang bersangkutan.
Masalah seperti tersebut di atas tidak hanya terjadi di Kalbar, namun juga terpapar di wilayah konflik lain di Tanah Air. Sebut misalnya Jakarta, Aceh, Makassar, Jawa Tengah hingga Ambon. Untuk itulah maka Institute for Training and Development (ITD) yang bermarkas di Amherst, Massachussets, Amerika Serikat menyelenggarakan Indo Journalist Programe.
Proses Seleksi
ITD di AS bekerjasama dengan INSIST yang berpusat di Yogyakarta mengadakan seleksi bagi para wartawan di wilayah konflik. Undangan dikirim via faksimil di kantor-kantor redaksi. Mereka merekrut reporter lapangan atau redaktur yang berpengalaman untuk meliput konflik dengan tema journalism in ethics and investigative reporting. Pada undangan tersebut terdapat pula formulir isian berupa syarat pendaftaran.
