Kami juga berkunjung ke sebuah kampung nelayan yang diawetkan sebagai museum organik. Ibarat Kampung Beting yang dijadikan cagar budaya. Ia tidak hanya terdiri dari pelabuhan, kapal, dan bangunan, namun juga kehidupan masyarakat di sekitarnya menjadi bagian organik dari museum ini. Sampai sekarang museum seperti itu belum ada di Kalimantan Barat. Kalaupun ada, saya baru merasakan di Sarawak Cultural Village, Sentubong, 30 km dari Kota Kuching, Malaysia Timur, jiran Kalbar. Di Sarawak Cultural Village setiap rumah etnik dihidupi oleh warga suku yang bersangkutan. Di sana tampak tradisi dan budaya yang mereka gunakan sehari-hari. Mulai dari bahasa, pakaian, musik, tari, hingga kue-kue tradisional.
Museum adalah rumahnya pengetahuan. Semua artefak mempunyai kekayaan informasi. Rasanya, tak pernah cukup waktu di Sabtu-Minggu untuk mengunjungi museum itu satu per satu. Banyak sekali rupa-rupa museum dengan keunggulannya.
