Opini

Damai dengan Etika Jurnalisme dan Investigative Reporting

Damai dengan Etika Jurnalisme dan Investigative Reporting
Penulis,paling kanan bersama para wartawan yang mengikuti Indo Journalist Programe di Institute for Training and Development (ITD) Amherst, Massachussets, AS, tahun 2002.

Saya disandera karena sejumlah warga pengungsi telah panik. Adapun saya berusaha meliput hal-hal yang terjadi di luar kamp pengungsian dan apa yang terjadi di dalam kamp pengungsian. Saya ingin menyajikan data dan fakta yang lengkap kepada pembaca sehingga tidak selalu memasang stempel negatif kepada kamp pengungsian. Mungkin betul ada di antara mereka yang jahat, namun tidak sedikit orang-orang baik.

Saya disadera pada pagi hari dan baru dilepas menjelang zuhur. Rasa takut pada waktu itu sudah berada di titik nadir. Syukur Tuhan masih membukakan pintu keselamatan, walaupun dalam benak pikir saya terbetik kata: ini adalah resiko profetik!
Berangkat dari situasi konflik di Kalbar dan tujuan pelaksanaan Indo Journalist Programe, saya dinyatakan lulus dan berhak mengikuti pendidikan journalism in ethics and investigative reporting. Saya bergabung bersama rekan-rekan seprofesi asal Aceh dan Ambon.
Ada 13 orang jurnalis Indonesia yang “terbang” dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Singapore. Dari Singapore transit di Jepang. Kemudian dari Jepang mendarat di New York. Pada saat perjalanan panjang nyaris 24 jam itulah saya melihat betapa majunya negara-negara luar seperti Singapore, Jepang dan AS.

Belajar di ITD