Kantor ITD mirip sebuah rumah besar. Paling besar ruangan diperuntukkan bagi kelas belajar. Di dalam kelas ini terdapat bendera berbagai bangsa yang menunjukkan bahwa negara-negara tersebut pernah mengirim individu lintas profetik untuk mengenyam pendidikan di ITD. Saya bangga berada di kelas ini. Bangga dengan merah-putih yang juga terpasang benderanya di ruangan istimewa, tempat berhimpun orang-orang pilihan di berbagai belahan dunia.
Ruangan lain kecil-kecil. Ruangan tersebut diperuntukkan bagi petugas kantor. Petugas kantor ITD tak sampai 10 orang.
Melihat bendera yang terpasang melebihi 30-an negara, saya berdecak kagum. Bagaimana bisa sebuah NGO ITD dengan hanya dikelola kurang dari 10 orang mampu penetrasi sampai puluhan negara? Ini menunjukkan organisasi ITD miskin struktur, tapi kaya fungsi! Berbeda di negara kita, pada umumnya organisasi itu gemuk, namun penetrasinya lemah! Pada sisi lain dukungan negara melalui Deplu AS keras mengucur. Sebab biaya mendidik 13 jurnalis dari Indonesia dengan akomodasi seluruhnya ditanggung, butuh dana miliaran rupiah. Kebijakan seperti ini amat sangat minim di pemerintah lokal, termasuk nasional Indonesia. Untuk itu kebijakan AS patut ditiru, apalagi kebijakan luar negeri Indonesia adalah bebas dan aktif. Pada sisi lain tujuan kemerdekaan Indonesia adalah hendak mewujudkan ketertiban dunia dan perdamaian abadi…
