Opini

Damai dengan Etika Jurnalisme dan Investigative Reporting

Damai dengan Etika Jurnalisme dan Investigative Reporting
Penulis,paling kanan bersama para wartawan yang mengikuti Indo Journalist Programe di Institute for Training and Development (ITD) Amherst, Massachussets, AS, tahun 2002.

Sekembali di dapur redaksi, saya menumbuhkembangkan pengetahuan yang diperoleh di AS. Wartawan maupun insan pers kampus dimotivasi untuk mengikuti kegiatan-kegiatan internasional. Beberapa orang kemudian menyusul pendidikan ke Paman Sam. Sementara karya jurnalistik investigasi juga bertumbuh. Beberapa kasus lokal seperti pergaulan bebas, korupsi dan perdagangan narkoba berhasil dibongkar. Begitupula dengan konflik berlatar etnis, melalui pendekatan liputan konfrehensif, isu-isu tersibak gamblang. Pembaca menjadi cerdas dan tidak mudah dihasut. Kamp-kamp pengungsian terberitakan keluh-kesahnya sehingga terjadi akselerasi sosiologis. Puluhan ribu kepala keluarga di kamp pada gilirannya dapat direlokasi sesuai program pemerintah. Kota Pontianak pun menjadi bersih dan aman. Fasilitas olahraga dapat difungsikan kembali untuk fasilitas umum berolahraga maupun berkompetisi.

Investigasi dan etika jurnalistik juga kami praktikkan dalam kaidah jurnalisme damai. Dengan kebijaksanaan redaksi yang pro jurnalisme damai, diaminkan oleh organisasi profesi seperti PWI dan AJI, maupun komunitas pegiat perdamaian. Alhamdulillah konflik di Kalbar semakin sembuh dengan liputan yang berimbang, di mana isu-isu konflik etnis bisa ditepis dengan keterbukaan. Tentu saja dengan menerapkan resep: seek the truth and report it. Minimize harm. Be accountable dan act independently. Konflik bernuansa etnis hingga menimbulkan pembersihan etnik tidak pernah terjadi lagi di Kalbar. * (Penulis adalah wartawan peserta shortcourse IJP di ITD-AS, tahun 2002)