Polisi di AS juga tekun menjaga warganya. Ada kisah polisi menegur orang tua yang membiarkan anak balitanya bermain seorang diri di pekarangan rumah. Hal semacam ini tidak saya temukan di Indonesia. Bahkan anak-anak bebas bermain tanpa kontrol orang tuanya, bukan hanya di pekarangan, tapi sampai ujung desa…Sebagai wartawan saya maklum jika ada warga AS yang hilang atau mengalami kecelakaan, maka negaranya cepat bereaksi. Berbeda dengan Indonesia, TKI-TKW mendapatkan perlakuan biadab, tenang-tenang saja. Untuk itu peningkatan kewaspadan akan isu terorisme di AS pasca peristiwa World Trade Centre (WTC) ditabrak dua pesawat pada 11 September 2001 dapat dimaklumi. Pemerintah AS bertanggungjawab penuh melindungi rakyatnya.
Dalam hal kebudayaan kami juga belajar perihal toleransi. Terutama untuk shalat dan puasa. Pernah kami shalat Jumat di kampus UMAS. Juga tarawih dan buka puasa bersama. Warga kampus baik muslim dan non muslim ikut menikmati juadah buka bersama. Tidak ada tekanan dan larangan menjalankan ajaran Islam. Masjid-masjid juga bertumbuh di AS. Islamic centre sangat diminati. Juga banyak yang memeluk Islam. Populasi muslim di AS tumbuh di atas 2 persen. Beberapa gubernur negara bagian tercatat sebagai seorang muslim.
