Di saat mahasiswa dulu saya mendengar dari kisah-kisahnya soal para raja dan kesultanan Pontianak. Soal Peristiwa Mandor. Soal tewasnya ayahanda Hamid, yakni Sultan Muhammad di tangan fasisme Jepang (1942-1945). Darinya saya tahu bahwa Kalbar turut dalam pergerakan nasional merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Kami sama-sama ke Taman Makam Juang Mandor dan sama-sama memperjuangkan Hari Berkabung Daerah.
Sekedar catatan, bahwa Jepang melakukan genosida di Kalbar dengan jumlah korban 21.037 jiwa. Yang dibantai adalah para cerdik-cendikia. Lebih awal kisah pembantaian sadis ini dari Peristiwa Westerling di Makassar dengan jumlah sebanyak 40.000 nyawa. Syaf menulis buku diterbitkan Grup Gramedia berjudul Mandor Bersimbah Darah.
Terkait Peristiwa Westerling yang melibatkan nama Sultan Hamid, menurut awak media yang kini juga mengajar di prodi komunikasi Fisip Untan, tak terbukti bersalah. Baik pemberontakan APRA di Bandung, maupun Peristiwa Westerling di Makassar-Sulawesi Selatan. “Westerling dia tampar! Dia marahi karena kenapa membunuh saudara-saudaranya sebangsa setanah air tanpa sepengetahun dirinya?”
Sebagai jurnalis muda saya hanya mendengar dan tidak bisa konfirmasi kepada Sultan Hamid maupun Westerling apakah benar peristiwa penamparan itu. Kalau betul tentu tak patut mengait-ngaitkan Hamid dengan keganasan Westerling seperti tuduhan viral Prof Dr AM Hendropriyono, Youtube, 11 Juni 2020.
