Saya segera merudu meja VIP itu. Tabek-tabek beruluk salam.
Kepada tamu pentingnya, Sekda mempersilahkan saya duduk di sebelahnya. Kemudian saya diperkenalkan sebagai wartawan, satu dari tiga penulis buku biografi politik Sultan Hamid disamping seorang dosen hukum Untan (Turiman Faturahman Nur) dan Ketua Yayasan Hamid (Anshari Dimyati). Di hadapan saya juga diperkenalkan seorang dosen dari Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan-RB), namanya Mahendra Petrus.
Buku biografi Hamid saya buka dari tas dan berpindah tangan ke Sekda. Dari Sekda diserahkan ke Mahendra Petrus.
“Pak Mahendra mau baca sampai tuntas. Beliau juga tertarik untuk meneliti sejarah Sultan Hamid terkait beliau aparatur sipil pengajar ASN tentang naskah/dokumen dinas dan lambang negara.”
Kami ngopi. Saling bertukar cerita. Dan tentu saja berbagi nomor kontak.
Kami berpisah karena acara harus segera dimulai dan Sekda akan bergerak ke acara lainnya yang harus dia hadiri di lain tempat. Saya tak berusaha mengingatkan bahwa Sekda super sibuk ini lupa kasih ganti cetaknya hehehe.
Telepon Nokia Communicator saya berdering. Saya tengok kembang-kempis aksara terbaca Om Max. Saya angkat. “Oi Nooor. Kau ade jumpe Mahendra kah? Di Kapuas Palace? Semalam?”
“Oiya Om. Ada. Minta buku Sultan Hamid.”
