Opini

Sultan Hamid Pengkhianat atau Pahlawan? Kesaksian Seorang Wartawan

Sultan Hamid Pengkhianat atau Pahlawan? Kesaksian Seorang Wartawan

Sepanjang di atas motor saya membuka ingatan masih ada gak ya bukunya? Rasanya masih ada 1. Buku semata wayang yang benar-benar hanya tinggal punya saya sebagai penulis. Masak penulis tak ada simpan barang sebuah buku pun?! Sak rasa di hati, tapi harus juga diberi. Apalagi terselip kalimat Pak Sekda, “Berape hargenye, nantek Aku ganti…”

Wah. Payah. Pak Sekda orang baik. Dia banyak mempermudah upaya penulisan hingga pameran beruntun tiga bulan tentang Sang Perancang Lambang Negara, bahkan membuka pameran di Gedung Arsipda dalam rangka peringatan Hut RI 17 Agustus 2013 hingga Hut Kota Pontianak 23 Oktober 2013 pasca launching buku biografi politik Hamid. Ia alumni S2 Australia yang juga tak lain tak bukan negeri persemakmuran/commonwealth/atawa federal.

Ingatan saya tak meleset. Memang masih ada 1 buku di lemari pustaka pribadi. Begitu jejak di tangan, segera saya bolak-balik apakah di antara hampir 600-an halaman buku tersebut ada secarik kertas oret-oret saya yang terselip. Maklum jurnalis alias wartawan terbiasa oret-oret info dan ditaroh di mana-mana terutama di buku yang sedang dicinta, apalagi dibedah di berbagai acara media, atau bersama sejawat kawula muda.


Yamaha hitam saya pacu dari Purnama Agung VII ke pusat niaga Bumi Khatulistiwa Jl Gajahmada. Daerah Pecinan.