Opini

Sultan Hamid Pengkhianat atau Pahlawan? Kesaksian Seorang Wartawan

Sultan Hamid Pengkhianat atau Pahlawan? Kesaksian Seorang Wartawan

Fokus mata pada peta jalan di otak dus, menusuk masuk Hotel Kapuas Palace. Saat itu jam di pergelangan tangan menunjukkan angka 10 lewat. Saya segera mencari lokasi kosong parkir motor, dan sejauh mata memandang di lokasi halaman parkir penuh kendaraan roda empat. Sebagian besar plat merah. Memang biasa begini jika ada acara pemerintah.

Saya segera masuk pintu utama. Melangkah ke ruang lobby yang megah seraya mencari-cari masih di ruang Ballroom atau manakah mereka? Rupanya pembukaan acara telah selesai dilakukan Sekda dari Function Hall, dan kini sedang rehat di resto.

Rupanya sama dengan saya yang sedang menebar pandang mencari-cari sosok penelepon. Maka yang order buku juga awas pada titik pintu masuk resto dari lobby yang luas berplafon tinggi hampir 30 meter itu. Tangannya melambai di ketinggian sehingga tampak dari kerumunan orang mengelilingi meja-meja bundar, di mana ratusan pegawai sedang menikmati juadah rehat plus ciak kopi atau teh panas.

“Nooor, sinek…” Suara Sekda setengah berteriak. Beliau memang ceplas-ceplos. Orangnya periang. Juga pencerita kelas wahid. Jika bersamanya bisa meledak-ledak tawa kita. Ada ada saja kisahnya. Termasuk sejarah.