Opini

Sultan Hamid Pengkhianat atau Pahlawan? Kesaksian Seorang Wartawan

Sultan Hamid Pengkhianat atau Pahlawan? Kesaksian Seorang Wartawan

Sebuah paket diantarkan Pak Pos ke kediaman saya Kampoeng English Poernama. Tentu dikejar rasa ingin tahu siapa pengirimnya, dan apa isinya.

Rupanya dari Jeruk Purut. Dari Om Max Jusuf Alkadrie. Isinya sebuah buku. Judulnya Sejarah yang Hilang. Penulisnya Mahendra Putra. Diterbitkan Penerbit PT Kanisius. Sudah cetakan yang ketiga tahun 2017. Tebalnya 365 halaman. Cetakan pertamanya 2015 dan disusul kedua pada 2016. Ini buku teranyar tentang Hamid sepengetahuan saya.

Masya Allah sudah jadi buku Pak Mahendra Petrus pikir saya? Edisi ketiga pula.

Pada bagian cover depan diambil kutipan Hamid: “Saja dimaki-maki, ditjertja, diedjek sebagai pengkhianat negara…”

Pengantar pada buku ini begawan hukum Indonesia Prof Dr Adnan Buyung Nasution. Kredebilitas Buyung tidak diragukan, sebab pemilik rambut putih sehingga kerap dia melawak bahwa dirinya Golput (golongan berambut putih) adalah saksi mata persidangan Hamid. Kala itu Buyung masih remaja. Masih SMA. Namun dia belajar banyak soal hukum sejak saat itu. Ia mengaku di bagian pengantar, bahwa banyak sekali sisi positif Hamid yang dibenamkan dalam lumpur sejarah Indonesia. Ia menganjurkan hasil riset Mahendra Petrus dibaca banyak kalangan pecinta sejarah.