Opini

Sultan Hamid Pengkhianat atau Pahlawan? Kesaksian Seorang Wartawan

Sultan Hamid Pengkhianat atau Pahlawan? Kesaksian Seorang Wartawan

Saya mengenal Max Jusuf secara dekat sejak 1997 ketika saya menjadi reporter di Radio Volare. Sebab dia setiap kali terbang ke Pontianak selalu ada waktu ke studio di kawasan Jalan Sumatera No 28 Pontianak. Pemilik kepala plontos ini suka kasih masukan soal penggunaan kata Bujang Dara yang seharusnya disebut Bujang Dare pakai e. Ia orang vokal dan suka mengkritik. Katanya, itu warisan Sultan Hamid, kakeknya sekaligus gurunya.

“Orang Kalbar aros diritik supaya maju. Siape yang suke terima kritik die cepat sukses. Kalo pendek tongkeng, ‘a tekesop dari kemajuan.” Begitu bahasa keramatnya kalau berkhutbah kasih petuah.

Max Jusuf sebenarnya sudah saya kenal lebih surut ke belakang. Sejak usia SD. Sejak saya bisa baca koran. Yakni Koran Masuk Desa masa Orba. Nama Max Jusuf ada di dalam boks redaksi. Tapi baru sekali dua kali jumpa di tahun 1992 ketika saya mulai menjadi aktivis pers kampus di Tabloid Mahasiswa Mimbar Untan. Ada sahabat di Mimbar Untan yang sudah jauh lebih awal mengenalnya yakni Syafaruddin Usman. Lewat Syaf saya mengenal figur Max lebih dekat, karena Syaf selain aktif di Mimbar Untan dia juga “dihire” Akcaya Pontianak Post sebagai wartawan. Akcaya milik Pemprov Kalbar kemudian dibeli Dahlan Iskan big boss Jawa Pos.