Opini

Sultan Hamid Pengkhianat atau Pahlawan? Kesaksian Seorang Wartawan

Sultan Hamid Pengkhianat atau Pahlawan? Kesaksian Seorang Wartawan

Cerita Massuka Djanting bahwa Van Mook digampar menjelang upacara di kawasan Residen Pontianak yang kini Kantor Walikota. Sebabnya Van Mook merokok secara tidak sopan di depan Hamid yang punya disiplin militer tingkat dewa. Wajar dia punya karir cemerlang di bidang militer Breda-Belanda, dan warga pribumi pertama berpangkat Mayjen, sekaligus pengawal istimewa Ratu Wilhelmina.
Kejadian penamparan Van Mook ini di benak saya terbaca sebagai Hamid tidak merasa inferior atau rendah diri di hadapan warga kulit putih, Belanda. Pejabat Gubernur pula. Ia merasa setara. Bukan warga bangsa terjajah. Kisah “tempeleng” Van Mook ini menjadi penting karena seolah-olah ide federal yang dianut Hamid adalah titipan Van Mook semata-mata. Lalu Hamid diklaim pro Belanda. Yakni untuk kepentingan politik kekuasaannya sebagai raja atau Kepala Daerah Istimewa Kalimantan Barat (DIKB).

IMG 20200618 WA0002

Peristiwa lainnya saya dengar langsung dari Sultan Abubakar Alkadrie. “Saya juga pernah ditampar Sultan Hamid dengan keras sekali sampai rontok gigi saya,” kata Sultan Kedelapan Istana Qadriyah Pontianak. Peristiwa itu terjadi di rumah pribadi Sultan Hamid di Jakarta.

“Saya ditampar karena saat malas belajar. Maklum masih muda,” kenangnya seraya menunjukkan posisi giginya yang copot itu. Selain saya ada Anshari Dimyati dan Turiman Faturahman yang melihat kosongnya gigi graham ini.