Oleh: Nur Iskandar
Pada Jumat malam tanggal 16 Oktober 2015 yang lalu, saya mendapat sebuah kunjungan seorang seniman Melayu asal Sumatera Timur (SuMut-sekarang), dari pengamatan saya sekilas, tampak sosoknya bertubuh atletis dan cukup proporsional, tatapan mata yang tajam, tata bicaranya cukup tegas dan lugas, terasa sekali ada bentukan disiplin militer didalam personafikasinya. Bercelana panjang warna krem dengan model celana outdoor adventure dengan dua saku tambahan di antara lutut dan paha sisi luar, kiri dan kanan. Seiring dengan perbincangan pembuka bisa kami rasakan wibawanya, sesuatu didalam sikapnya yang tidak bisa dipungkiri bahwa dia berdarah bangsawan, sesekali dia menyebut nama anda dengan panggilan awak, logat Melayunya masih cukup kental meskipun sejak masa kuliah hingga saat ini ia menetap di Bandung. Dari diskripsi diatas pasti terasa janggal tamu saya ini disebut sebagai seniman namun begitulah adanya seorang kawan bernama Tengku Ryo yang hadir di teras Kantor Bersama Pusdiklat TOP Indonesia, Sultan Hamid Foundation, Bina Antarbudaya Chapter Pontianak dan Dwi Syafriyanti Law Office.
Berikut ini saya coba menuliskan kisah pada malam itu dan cerita yang saya dapatkan kemudian hari, saya kira cukup menarik menuliskan sosok Tengku Ryo ini, mungkin bisa memberikan inspirasi bagi yang membacanya.
