Tentang karya karya saya itu beberapa seniman Melayu memberikan pandangan bahwa cara saya memainkan biola tidak cukup Melayu, saya memahami pandangan itu dan saya menerimanya dengan lapang dada, namun sayapun menjelaskan bahwa jika kita ingin musik kita dikenal didunia maka kita harus mampu bersaing dengan karya karya yang sudah ada, jika kita terus berkutat dengan pendekatan tradisi maka selamanya musik kita akan diklasifikasikan oleh para kapitalis dan rasist yang menguasai industri musik hanya sebagai musik Folklore. Kemudian lagi yang jarang dipahami oleh pemain biola Melayu bahwa teknik yang mereka gunakan sebetulnya juga mengadaptasi permainan dari Persia (Iran), Turki, Arab dan India yang memang banyak mempengaruhi musik Melayu. Kontradiksi penggunaan biola pada ensemble Melayu harus direnungkan lagi karena jika ingin bermain tradisi maka alat musik yang tepat adalah rebab bukan biola. Biola dirancang hingga bentuknya saat ini sekaligus dengan teknik bermainnya sejak abad ke 16, namun dulu pada awal abad ke-18 saat biola mulai populer digunakan di Nusantara menggantikan rebab, atok atok kita kekurangan informasi dan tidak ada sekolah musik, oleh sebab itu kebanyakan lagu instrumental Melayu memainkan lagu vokal, hampir tidak ada komposisi musik yang diciptakan untuk biola.
Seniman Bangsawan itu bernama Tengku Ryo
