Namun jika kita membicarakan tentang karir biolanya, dia hanya menjawab “setakat tu saje saye bise, masih banyak yang lebih baik dari saye ni, belumlah saye pantas disebutkan sebagia pemain biola pun, apalagi kunun sebagai maestro, alamak mati kite, saye hanya senang bermain biola, selebihnya hanya Allah SWT yang memperjalankan”.
Setelah menyeruput kopi hangat dan menikmati kacang rebus dan singkong goreng, kami lanjutkan obrolan sampai pada sebuah topik yang membahas titik balik dari perjuangannya untuk budaya Melayu, kemudian ia mengingat sebuah peristiwa kecil di Taman Ismail Marzuki (TIM) di bulan Oktober 2002.
Ketika itu, dia mencari buku sinematografi di toko buku disudut TIM, kemudian tanpa sengaja berkenalan denga seorang pencari buku juga, seorangpria tua berumur kira kira 70-an tahun. Orang tua itu bertanya, “Buku apa yang ananda cari?”
“Buku tentang film pak ” jawab Tengku Ryo.
“Nanti kalau sudah selesai mencari buku itu, saya mau kasih hadiah buat kamu ” lanjut orang tua itu.
“Hadiah apa Pak?”, sambil tersenyum dan sedikit bingung Tengku Ryo meladeni orang tua itu dengan sopan.
“Nanti saja, carilah dulu buku film yang ananda cari-cari itu”.
