Saya tahu dari orang tua bahwa ada onyang saya dari pihak ibu seorang penyair namanya Tengku Amir Hamzah, tapi kisahnya saya tidak faham karena tidak ada yang menceritakan dan saya pun tidak begitu tertarik pada dunia syair ataupun satra jadi pengetahuan saya tentang onyang Hamzah hanya selintas saja.
Saya teruskan membaca buku itu sambil berlinangan air mata mengetahui betapa kejam apa yang terjadi di Sumatera Timur pada tahun 1946 itu, dan betapa onyang Hamzah mencintai negeri dan bangsanya sehingga ia menolak menuliskan syair dalam bahasa Belanda, betapa hebat karya karyanya dan saya baru tahu, betapa sesak dada saya rasanya. Dalam hati saya terus mengucapkan Masya Allah dan mohon ampuun patik (*patik:sebutan diri kehadapan sesama bangsawan Melayu), mohon ampuun patik onyang..patik tak tau, ya Allah sunggoh patik tak tau.
Didalam buku itu, Tengku Amir Hamzah selalu menghimbau kawan kawannya untuk menulis syair dalam bahasa Melayu atau bahasa Indonesia, hindari menulis dalam bahasa asing karena maknanya pasti belum resap dalam hati para penyair sebangsanya itu.
