in

Seniman Bangsawan itu bernama Tengku Ryo

WhatsApp Image 2020 07 19 at 08.17.40

Oleh: Nur Iskandar

Pada Jumat malam tanggal 16 Oktober 2015 yang lalu, saya mendapat sebuah kunjungan seorang seniman Melayu asal Sumatera Timur (SuMut-sekarang), dari pengamatan saya sekilas, tampak sosoknya bertubuh atletis dan cukup proporsional, tatapan mata yang tajam, tata bicaranya cukup tegas dan lugas, terasa sekali ada bentukan disiplin militer didalam personafikasinya. Bercelana panjang warna krem dengan model celana outdoor adventure dengan dua saku tambahan di antara lutut dan paha sisi luar, kiri dan kanan. Seiring dengan perbincangan pembuka bisa kami rasakan wibawanya, sesuatu didalam sikapnya yang tidak bisa dipungkiri bahwa dia berdarah bangsawan, sesekali dia menyebut nama anda dengan panggilan awak, logat Melayunya masih cukup kental meskipun sejak masa kuliah hingga saat ini ia menetap di Bandung. Dari diskripsi diatas pasti terasa janggal tamu saya ini disebut sebagai seniman namun begitulah adanya seorang kawan bernama Tengku Ryo yang hadir di teras Kantor Bersama Pusdiklat TOP Indonesia, Sultan Hamid Foundation, Bina Antarbudaya Chapter Pontianak dan Dwi Syafriyanti Law Office.
Berikut ini saya coba menuliskan kisah pada malam itu dan cerita yang saya dapatkan kemudian hari, saya kira cukup menarik menuliskan sosok Tengku Ryo ini, mungkin bisa memberikan inspirasi bagi yang membacanya.

Tengku Ryo seorang yang berjiwa petualang, hobinya pada bidang kegiatan yang memicu adrenalin membawa langkahnya mengikuti pelatihan terjun payung,menembak, panjat tebing atau ikut dalam pendidikan SAR .Ketika masih mahasiswa,ada keinginannya untuk mengikuti program wajib militer untuk menjadi seorang perwira TNI setelah lulus sarjana S1, biasanya kadet Wamil akan lulus dengan pangkat Letnan Dua. Oleh karena keinginan itu ia bergabung dalam keanggotaan Resimen Mahasiswa Mahawarman Jawa Barat dan mendapatkan pedidikan dasar kemiliteran di Komando Pendidikan Bela Negara, Cikole Lembang tahun 1993 diusianya yang masih 17 tahun.

Seiring waktu karirnya di resimen cukup cemerlang, setelah melewati beberapa tahap pendidikan salah satunya pendidikan kursus Polisi Resimen di Pusat Pendidikan Polisi Militer Gadobangkong Cimahi, ia kemudian menjabat sebagai wakil komandan Polisi Resimen Mahasiswa Mahawarman se Jawa Barat, dan pernah menjabat sebagai Kepala Seksi Operasi dan Komandan Provost Kompi C Batalyon IV, hingga suatu ketika ia dipercaya untuk menjadi Komandan Upacara di lapangan Gazibu Bandung. Ketika upacara tersebut selesai dilaksanakan, baik peserta maupun penonton mulai meninggalkan lapangan upacara, entah mengapa ia tertegun disamping lapangan sambil memandang orang yang beranjak pulang dan disisi lain panggung tribun upacara mulai dibongkar, didalam hatinya ia sepakat untuk meninggalkan kegiatan keprajuritan itu, meskipun telah banyak pendidikan dasar militer telah dilaluinya dan beberapa rekan seniornya telah menjadi perwira TNI.

Rekan rekan mahasiswa di sekelilingnya sering mengatakan dirinya sebagai orang yang nekat atau pemberani namun didalam sanubari ada sesuatu yang mengganjal. “Aku mungkin telah menjadi sosok yang berani, tapi sesungguhnya aku ini penakut,” kisahnya. Kenapa penakut? “Karena aku tak berani mengambil sikap untuk sesuatu yang memanggil-manggil di dalam jiwaku, aku ingin menjadi seniman!”. Setelah upacara tersebut yang merupakan titik kulminatif dari seluruh kegiatan kemahasiswaan dan keprajuritan Ia merasa telah cukup membuktikan bahwa dirinya bisa berdisiplin dan mampu menyelesaikan studi, saatnya untuk menjadi dirinya sendiri.

Tengku Ryo dikuliahkan ke Bandung atas desakan orang tuanya, ibunya berharap ia menjadi sarjana ekonomi dan ayahnya ingin ia menjadi disiplin, karena semasa SMA dirinya anggap sebagai anak yang pemberontak, indisiplioner, suka tawuran, balapan liar dan asik dengan band.

Akhirnya setelah menyelesaikan pendidikan sarjana ia tak meneruskan rencananya untuk menjadi Perwira Karir melalui Wamil, malah meninggalkan Bandung menuju Jogja untuk mempelajari musik khususnya biola yang sangat ia gemari, setelah setahun di Jogja ia kembali ke Bandung dan tak lama kemudian mendapat beasiswa musik ke Kanada.

Tengku Ryo kemudian berkisah tentang salah satu perjalanan musiknya di negeri Paman Sam,Amerika Serikat dalam rangka memenuhi undangan untuk tampil pada ajang New York Couture Fashion week pada bulan September 2015. Dia diundang oleh penyelenggara NYCFW setelah terseleksi sebagai salah satu penampil pada event sekala internasional tahunan itu, ia terpilih oleh penyelenggara karena konsistensinya dalam mengembangkan musik Melayu dan mengenakan songket Melayu dengan design inovatif sebagai kostum dimanapun ia beraksi.

Tengku Ryo dianggap cukup fenomenal dengan karya karya musiknya yang berakar pada budaya Melayu, salah satu karyanya adalah musik instrumental berjudul Journey to Deli yang sempat menjadi theme song pada iklan Kacang Garuda, mungkin baru itulah lagu Melayu pertama yang dijadikan iklan produk secara nasional. Selain itu dia juga membuat sebuah lagu yang menggugah perasaan orang Melayu melalui lagu Hymne Tanah Melayu yang diciptakannya pada tahun 2005. Jika kita menelaah komentar tentang lagu tersebut di kanal YouTube-nya, ada yang menyarankan agar lagu tersebut dijadikan lagu resmi persatuan budaya Melayu dimanapun berada. Setelah tiga kali berturut turut tampil di NYCFW, salah satu media berbasis di Washington DC – VOAIndonesia menyebutnya sebagai salah satu maestro biola Indonesia yang aktif mempopulerkan musik dan songket Melayu, berita tersebut kemudian disambut oleh media tanah air yaitu Celebrity.Okezone, Nasional.Republika,Surabaya Pagi dan lainnya. //(link kami sertakan).

Negara yang paling sering dikunjunginya adalah negara tetangga Malaysia, pertunjukkannya selalu mendapat apresiasi yang tinggi di Malaysia,hingga iapun banyak berkolaborasi dengan artis nasional Malaysia yang juga dikenal di Indonesia seperti Amy Search bahkan Siti Nurhaliza, kemudian pada tahun 2017 ia mendapat penghargaan Best International Male Artiste pada ajang tahunan CHT Award yang berlangsung di Kuala Lumpur. Ia pun pernah diundang langsung di undang Tun Mahathir Muhamad untuk bersantap malam secara eksklusif selepas penampilannya di event peringatan Hari Satu Malaysia di Pavillion Mall Kuala Lumpur, tampil juga artis Indonesia Ruth Sahanaya dalam acara yang sama. Beberapa musisi dan penyelenggara event di Malaysia menganggapnya sebagai musisi khususnya pemain biola yang termahal yang pernah tampil di Malaysia dikaitkan dengan penampilan maestro biola alm.Idris Sardi yang pernah tampil di Istana Budaya Malaysia dengan membawakan belasan lagu dengan bayaran kira-kira seratus juta rupiah, namun ada sebuah event dimana Tengku Ryo menampilkan hanya tiga lagu originalnya dengan bayaran sedikit lebih dari sang maestro Idris Sardi.

Namun jika kita membicarakan tentang karir biolanya, dia hanya menjawab “setakat tu saje saye bise, masih banyak yang lebih baik dari saye ni, belumlah saye pantas disebutkan sebagia pemain biola pun, apalagi kunun sebagai maestro, alamak mati kite, saye hanya senang bermain biola, selebihnya hanya Allah SWT yang memperjalankan”.

Setelah menyeruput kopi hangat dan menikmati kacang rebus dan singkong goreng, kami lanjutkan obrolan sampai pada sebuah topik yang membahas titik balik dari perjuangannya untuk budaya Melayu, kemudian ia mengingat sebuah peristiwa kecil di Taman Ismail Marzuki (TIM) di bulan Oktober 2002.

Ketika itu, dia mencari buku sinematografi di toko buku disudut TIM, kemudian tanpa sengaja berkenalan denga seorang pencari buku juga, seorangpria tua berumur kira kira 70-an tahun. Orang tua itu bertanya, “Buku apa yang ananda cari?”

“Buku tentang film pak ” jawab Tengku Ryo.
“Nanti kalau sudah selesai mencari buku itu, saya mau kasih hadiah buat kamu ” lanjut orang tua itu.
“Hadiah apa Pak?”, sambil tersenyum dan sedikit bingung Tengku Ryo meladeni orang tua itu dengan sopan.
“Nanti saja, carilah dulu buku film yang ananda cari-cari itu”.

Baca Juga:  Gubernur itu Penguasa, Bukan Pengasuh, Maka Wajar Jika Ia Marah

Setelah mendapatkan buku sinematografi, saat akan keluar dari toko pojokan TIM itu ia bertemu lagi dengan orang tua tadi dan memberikan hadiah sebuah buku berjudul Amir Hamzah 1911- 1946 – Sebagai Manusia dan Penyair, tertulis sebagai editor adalah Abrar Yusra dan diterbitkan oleh Yayasan Dokumentasi HB.Jassin, Jakarta 1996. Setelah prosesi ucapan terima kasih merekapun berpisah, Tengku Ryo melanjutkan perjalanan menuju stasiun kereta api Gambir untuk menuju Bandung sambil masih bertanya tanya dalam hati tentang hadiah buku itu.

WhatsApp Image 2020 07 19 at 08.17.40 1
Tengku Ryo dipayungi tradisi kerajaan Serdang dan Tengku Ryo saat naik ke pentas memetikkan senar biola pangilan jiwanya

“ Setelah saya duduk dengan nyaman di gerbong 1 kelas bisnis kereta api Parahyangan jurusan Bandung – Jakarta, rasa penasaran saya untuk membaca isi buku yang diberikan oleh orang tua tadi, kalau tidak salah namanya pak Arsyad seorang asli Minangkabau. Kebetulan saya sangat suka membaca hingga bukan hal yang berat untuk dilakukan, buku berjudul Amir Hamzah 1911- 1946 – Sebagai Manusia dan Penyair merupakan bunga rampai atau kumpulan memoar tokoh sastera nasional yang menulis tentang Amir Hamzah, tokoh tersebut yaitu Asrul Sani, Kemala, Abrar Yusra, Achdiat Karta Mihardja, Ajip Rosidi, Goenawan Mohammad dan Abdul Hadi, sedangkan sebagai penghantar adalah H.B Jassin.
Ketika saya mulai membaca alinea pertama, sebagai berikut:

Amir Hamzah dilahirkan tanggal 28 Februari 1911 dari kalangan bangsawan di Tanjungpura, Langkat,Sumatera Utara.

Sesuatu terjadi dalam diri saya, tiba-tiba seluruh bulu roma berdiri seakan mau terbang dari kulit saya, saya tidak mengira bahwa Amir Hamzah yang tertulis di bagian depan buku ini adalah kisah Onyang (orang tua dari atok /kakek) saya sendiri, namun saya masih belum yakin dan meneruskan membaca kalimat berikutnya, sebagai berikut :
*Ia adalah putra Tengku Bendahara Paduka Raja Kerajaan Langkat. Meninggal pada tanggal 20 Maret 1946 sebagai korban revolusi sosial yang bergolak di Kuala Bingai (sepuluh kilo meter dari Binjai) Sumatera Utara.

Ya Allah, ini onyang Hamzah!! teriak saya dalam hati, mengapa penulis atau editor ini tak menuliskan namanya dengan lengkap? Kenapa Tengku dibelakang namanya dihilangkan?!. Nama Amir Hamzah banyak digunakan orang, dan ada juga kisah Amir Hamzah pada cerita Persia berjudul Qissa il Emir Hamzah di zaman Nabi Ibrahim AS, kami orang Melayu mengenalnya sebagai buku Hikayat Amir Hamzah. Memang ada foto terpampang di covernya tapi saya tidak kenal dan memang tidak pernah lihat foto onyang Hamzah sebelumnya, saya kira itu adalah foto pak Abrar Yusra yang menjadi editor.

Saya tahu dari orang tua bahwa ada onyang saya dari pihak ibu seorang penyair namanya Tengku Amir Hamzah, tapi kisahnya saya tidak faham karena tidak ada yang menceritakan dan saya pun tidak begitu tertarik pada dunia syair ataupun satra jadi pengetahuan saya tentang onyang Hamzah hanya selintas saja.

Saya teruskan membaca buku itu sambil berlinangan air mata mengetahui betapa kejam apa yang terjadi di Sumatera Timur pada tahun 1946 itu, dan betapa onyang Hamzah mencintai negeri dan bangsanya sehingga ia menolak menuliskan syair dalam bahasa Belanda, betapa hebat karya karyanya dan saya baru tahu, betapa sesak dada saya rasanya. Dalam hati saya terus mengucapkan Masya Allah dan mohon ampuun patik (*patik:sebutan diri kehadapan sesama bangsawan Melayu), mohon ampuun patik onyang..patik tak tau, ya Allah sunggoh patik tak tau.

Didalam buku itu, Tengku Amir Hamzah selalu menghimbau kawan kawannya untuk menulis syair dalam bahasa Melayu atau bahasa Indonesia, hindari menulis dalam bahasa asing karena maknanya pasti belum resap dalam hati para penyair sebangsanya itu.

Tengku Amir Hamzah adalah bangsawan dari Kesultanan Langkat bergelar Tengku Pangeran Indera Putera, saya bertali darah dengan beliau dari pihak ibunda saya yang bernama Tengku Syafiah binti Tengku Awaluddin bin Tengku Soran bin Tengku Hamzah, meskipun tidak secara langsung namun kami berasal dari garis yang sama yaitu Tengku Hamzah – gelar Pangeran Hamzah. Semasa kecil saya terkadang dibawa ibunda berkunjung ke Tanjungpura Langkat menjenguk atok dan onyang yang masih hidup. Sedangkan entu (ayah) saya berasal dari zuriat Kesultanan Serdang dari garis Tuanku Sabdjana yang merupakan Raja Muda pertama di Kesultanan Serdang, selayaknya orang Melayu kami meneruskan garis ayah (patrenial). Saya dan saudara sekandung disebutkan sebagai ‘santan betapis’ yang bermakna seseorang yang memiliki darah bangsawan Melayu yang masih murni belum bercampur, setidaknya sejak Kesultanan Langkat berdiri tahun 1568 dan Kesultanan Serdang berdiri tahun 1723, para leluhur berkawin antara Tengku dengan Tengku dari Kesultanan Melayu yang ada waktu itu (Langkat,Deli,Asahan, Serdang, dan Kualoh Leidong).

Sekilas tentang Kesultanan Serdang, kesultanan kami berdiri pada tahun 1723 setelah berpecah dari Kesultanan Deli dalam konflik internal, Tuanku Umar yang merupakan putera mahkota yang berhak meneruskan tahta ayahndanya yaitu Tuanku Panglima Paderap terpaksa hengkang dari istana akibat obsesi abang tirinya yaitu Tuanku Pasutan untuk menjadi sultan, akhirnya Tuanku Umar diselamatkan ke wilayah Serdang dan dinobatkan menjadi Sultan Serdang pertama.

Sesampainya di Bandung, saya tidak langsung pulang, saya duduk dan minup kopi disebuah warung dipinggir stasiun Hall Bandung untuk menenangkan diri saya dan juga memberi waktu agar mata saya yang sembab kembali normal, saya renungkan diri saya dan musik yang saya pelajari selama ini, semua berakar pada budaya Eropa dan Amerika, disitu saya paham biar bagaimanapun saya pelajari musik itu, meski saya bisa memainkan nada dan tekniknya tapi maknanya tak akan mungkin saya pahami dan resapi sepenuhnya, karena pada hakikatnya musik adalah sebuah karya interaksi manusia pada alam dan kehidupan sosial dimana karya musik itu diciptakan. Saya tetap mempelajari dan mengapresiasi musik klasik Eropa terutama mengenai teknik bermain biola, karena biar bagaimanapun alat musik itu memang dikembangkan disana berikut cara memainkannya, namun saya mencoba mengaplikasikannya dalam karya yang berakar pada musik Melayu dengan cita cita agar musik Melayu bisa dikenal diseluruh dunia.

Tentang karya karya saya itu beberapa seniman Melayu memberikan pandangan bahwa cara saya memainkan biola tidak cukup Melayu, saya memahami pandangan itu dan saya menerimanya dengan lapang dada, namun sayapun menjelaskan bahwa jika kita ingin musik kita dikenal didunia maka kita harus mampu bersaing dengan karya karya yang sudah ada, jika kita terus berkutat dengan pendekatan tradisi maka selamanya musik kita akan diklasifikasikan oleh para kapitalis dan rasist yang menguasai industri musik hanya sebagai musik Folklore. Kemudian lagi yang jarang dipahami oleh pemain biola Melayu bahwa teknik yang mereka gunakan sebetulnya juga mengadaptasi permainan dari Persia (Iran), Turki, Arab dan India yang memang banyak mempengaruhi musik Melayu. Kontradiksi penggunaan biola pada ensemble Melayu harus direnungkan lagi karena jika ingin bermain tradisi maka alat musik yang tepat adalah rebab bukan biola. Biola dirancang hingga bentuknya saat ini sekaligus dengan teknik bermainnya sejak abad ke 16, namun dulu pada awal abad ke-18 saat biola mulai populer digunakan di Nusantara menggantikan rebab, atok atok kita kekurangan informasi dan tidak ada sekolah musik, oleh sebab itu kebanyakan lagu instrumental Melayu memainkan lagu vokal, hampir tidak ada komposisi musik yang diciptakan untuk biola.

Baca Juga:  Kebijakan yang Sinergis

Seandainya pada zaman itu atok atok kita sudah bisa mengakses youtube atau sarana informasi lain saya cukup yakin teknik yang mereka turunkan akan lebih kaya. Pandangan saya ini bukan berarti kita melupakan musik tradisi namun harus paham peruntukannya, jika memang pertunjukannya tentang musik tradisi sudah semestinya bermain sebaik baiknya tradisi, dan saya kira kita tidak perlu khawatir tentang keberlangsungan musik tradisi Melayu, karena sampai hari ini masih banyak yang memainkan dan mendalaminya, saya memfokuskan diri untuk menciptakan musik Melayu kontemporer. Untuk bisa membawa musik Melayu agar setara dengan musik era klasik, blues, latin atau jazz adalah sebuah pekerjaan rumah yang tidak mudah. (interview via telpon)

Setelah dari peristiwa pada tahun 2002 itu merubah cara pandang seorang Tengku Ryo di berbagai hal dalam kegiatannya, dia kembali ke Medan dan Serdang, belajar dan membuat beberapa riset tentang budaya Melayu di Sumatera Timur khususnya. Dibawah bimbingan langsung dari Tuanku Luckman Sinar Basarshah II – Sultan Serdang VIII yang juga seorang sejarawan nasional (mangkat pada tahun 2011, mendapat penghargaan sebagai Sejarawan Utama Negara oleh Masyarakat Sejarawan Indonesia -MSI, anggota kehormatan National Geographic, dsb), Tengku Ryo belajar tentang sejarah, budaya dan ke-tata negaraan kesultanan Melayu khususnya Kesultanan Serdang. Pada tahun 2009, atas prestasinya di bidang musik dan dedikasinya terhadap Kesultanan Serdang maka Tengku Ryo dianugerahi gelar adat Tengku Merdangga Diraja Kesultanan Serdang dan atas kemampuan bahasa dan hubungan internasionalnya maka ia diembani tugas sebagai Wazir Wangsa Negara yang bertugas sebagai wakil Sultan Serdang dalam urusan luar negeri Serdang baik dalam skala nasional maupun internasional hingga saat ini.

Tengku Ryo juga cukup memahami sejarah perjalanan Indonesia dan menyelam dalam sejarah dunia khususnya pra dan paska Perang Dunia II, kekagumannya terhadap Sultan Hamid II, Bung Hatta dan tokoh federalisme lainnya membawanya kepada sebuah pandangan bahwa federalisme merupakan solusi bagi keadaan di Indonesia, pendidikan bela negara yang menempa dirinya membuatnya mencintai Indonesia dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab, dia ingin agar Indonesia bisa menjadi negara yang maju, kuat, dan terbuka. Memiliki sistem tata negara demokratis yang tidak lagi bersifat setralistik, Indonesia bisa menjadi negara dan bangsa yang memiliki jiwa besar untuk memajukan seluruh daerah dengan keraifan lokalnya masing masing, ia percaya bahwa daerah pasti lebih tau membuat sebuat kebijakan yang tepat guna untuk daerah masing masing ketimbang kebijakan yang dibuat oleh pusat, ia ingin tidak ada lagi diskriminasi budaya dan kekuasan atau dominasi politik yang berlebihan. Dulu bentuk negara serikat diyakini sebagai trik Belanda, tapi kini Belanda atau negara manapun tidak bisa lagi mendoktrin negara kita.

Kekhawatirannya akan keberlangsungan dan tergerusnya entitas budaya Melayu Sumatera Timur sangatlah besar, ia tidak memahami kebijakan negara yang tidak mau melihat kenyataan bahwa perlu didirikan Provinsi Sumatera Timur agar wilayah yang tercakup didalamnya terperhatikan dengan adil, Sumatera Utara terlalu besar dan terlalu banyak budaya yang harus diperhatikan. “Negeri kami diseluruh peta dan kompas dunia disebut sebagai East Coast Sumatera atau Eastern Sumatera dan letaknya memang di Timur Sumatera namun dipaksakan untuk berada di Utara, entah kompas dunia yang salah atau kompas pemerintah yang terlalu canggih”, ujarnya sambil berkelakar.

Kegiatannya diluar musik memang cukup banyak, dia aktif di organisasi Forum Silaturahmi Keraton Nusantara yang di ketuai oleh PRA.Arief Natadiningrat (Sultan Sepuh IV, Kasepuhan Cirebon) sebagai ketua bidang urusan luar negeri dan aktif mendukung rencana pengusulan UU Keraton, menjadi tim peneliti dan pengusulan Hari Tenun Songket Nasional dan menciptakan Hymne Tenunku Indonesiaku, sebagai salah satu kontributor budaya untuk United Nation Federation Organisation (UNFO), aktif mendukung perjuangan masyarakat adat dalam memperjuangkan UU Perlindungan Masyarakat Adat.

Setelah uraian diatas barulah kita paham sepak terjang seorang Tengku Ryo yang selama ini kita kenal sebagai pemusik atau pemain biola, ternyata musik baginya hanya salah satu bagian dalam hidupnya, musik menurutnya bukan hanya sebagai hiburan semata, musik memiliki fungsi dan manfaat yang lebih penting dari itu, seperti yang ia sampaikan pada penganugrahan CHT Award di Kuala Lumpur “my music is not about entertaintment, my music is about the spirit of my people”, lewat musik ia sampaikan pandangan dan perasaannya karena ia percaya musik berasal dari jiwa, untuk itu jiwa pula yang akan menerimanya, bukankah di jiwa itu al Haq bersemayam?.

Dengarlah karya musiknya berjudul Pledoi maka kita bisa rasakan pergolakkan alam pikir dan rasa Sultan Hamid II dan Tengku Ryo melemparkan banyak pertanyaan lewat bunyi tanpa kata itu kepada kita untuk direnungkan dan dijawab dalam relung hati kita dengan sebenar benarnya, apa yang terjadi hingga kini, semua yang di khawatirkan Sultan Hamid II dan bung Hatta benar benar terjadi.
Dengarlah Hymne Tanah Melayu, The Great Malay, Journey To Deli, Spirit dan karya karya Tengku Ryo lainnya, semua memiliki makna dan pesan dengan interpretasi seluas luasnya.

Sayapun kembali merenung dan teringat nasehat Dr. Leo Sutrisno, katanya, “Banyak orang ingin melakukan perubahan besar,namun sampai tua perubahan itu tak kunjung terjadi. Kenapa tak terjadi perubahan besar seperti munajad doa-doa para kyai, pastur, pendeta, rahib dan ulama? Ya karena perubahan itu tidak dimulai dari diri sendiri. Tidak dimulai dari hal-hal kecil. Dan tidak dimulai dari saat ini juga.”
Saya kira, Tengku Ryo telah menyiapkan dirinya, mulai dari sisi akademik maupun ilmu keprajuritan, sarat dengan ilmu pengetahuan tentang seni, budaya, sejarah dan nilai kearifan lokal . Auranya keluar dari nada suara, karya biola, dan sorot mata. Saya yakin dia akan jadi pemimpin yang dikagumi dan dicintai masyarakatnya.
Lalu bagaimana dengan kita di Pontianak? Kita rupanya, kalau disandingkan dengan kisah Tengku Ryo, rasanya tertinggal jauh.

Saya bersyukur atas silaturahiim yang terjalin ketika Tengku Ryo bertandang pertama kali ke Bina Antarbudaya Chapter Pontianak dalam rangka membantu kegiatan Lentera Timur Dot Com yang mendapat kepercayaan untuk melaksanakan sebuah proyek Presiden Joko Widodo dan Kemendes, yakni meliput transmigrasi pertama di Rasau Jaya. Kemudian kami bersua kembali ketika Tengku Ryo menghadiri penobatan Sultan Kadriyah Pontianak IX, disela kegiatan itu dia selalu menyempatkan diri untuk berdiskusi bersama kawan kawan di Pontianak, khususnya Ketua Yayasan Sultan Hamid, Anshari Dimyati. Lewat Aan-lah kami jadi saling sharing wawasan dan pengalaman. Saling tukar nomor buat melakukan sesuatu demi keadilan dan

kemajuan umat manusia.Terasa klise, tapi kami ini sudah masuk usia kepala empat, 40 tahun lebih. Sudah bisa memilih mana yang menipu dan mana yang abadi. Di malam keramat itu hadir juga Turiman Faturrahman Nur, dosen hukum tata negara yang menyusun desertasi Sultan Hamid II sebagai Sang Perancang Lambang Negara Elang Radjawali Garuda Pancasila. Pertemuan dimulai pukul 19.30 bada isya ditutup pukul 00.30.

Link//
https://www.voaindonesia.com/a/maestro-biola-tengku-ryo-populerkan-musik-dan-songket-indonesia-di-amerika/4040790.html

https://celebrity.okezone.com/read/2017/09/25/33/1782353/keren-maestro-biola-tengku-ryo-perkenalkan-musik-dan-songket-indonesia-di-amerika
https://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/15/11/25/gaya-hidup/trend/17/09/26/owvky4284-tengku-ryo-populerkan-songket-di-amerika-lewat-biola
http://surabayapagi.com/read/berlaga-di-as-tengku-ryo-padukan-biola-dan-songket
http://www.couturefashionweek.com/tag/tengku-ryo/
https://hariansib.com/Medan-Sekitarnya/Seniman-Melayu-Tengku-Ryo-Terima-Penghargaan-International-CHT-Award-2016
https://jantungmelayu.com/2017/08/master-biola-itu-adalah-kerabat-kesultanan-negeri-serdang/

https://www.youtube.com/watch?v=nt8O8evLbnc |Tengku Ryo won CHT Int.Award

Perjuangan Tengku Ryo dibidang Tenun Songket
https://indonews.id/artikel/18853/Komunitas-Tenun-Tradisional-Persiapkan-Deklarasi-Sambut-Hari-Tenun-Nasional/

https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-4398668/tenun-tradisional-ri-tiarap-digempur-produk-impor

Tengku Ryo | Royal Family Geneacology | Teromba | by British Web
https://www.royalark.net/Indonesia/serdang2.htm

Written by Nur Iskandar

Hobi menulis tumbuh amat subur ketika masuk Universitas Tanjungpura. Sejak 1992-1999 terlibat aktif di pers kampus. Di masa ini pula sempat mengenyam amanah sebagai Ketua Lembaga Pers Mahasiswa Islam (Lapmi) HMI Cabang Pontianak, Wapimred Tabloid Mahasiswa Mimbar Untan dan Presidium Wilayah Kalimantan PPMI (Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia). Karir di bidang jurnalistik dimulai di Radio Volare (1997-2001), Harian Equator (1999-2006), Harian Borneo Tribune dan hingga sekarang di teraju.id.

WhatsApp Image 2020 07 19 at 07.51.20

Palestina Bisa Muncul Lagi di Google Maps, Lets Do It

WhatsApp Image 2020 07 19 at 11.03.24

Sastrawan Besar Indonesia–Sapardi Djoko Damono–Wafat: Ia Pernah ke Pontianak–Puisinya Sering Dibacakan dalam Aneka Lomba