Sesuatu terjadi dalam diri saya, tiba-tiba seluruh bulu roma berdiri seakan mau terbang dari kulit saya, saya tidak mengira bahwa Amir Hamzah yang tertulis di bagian depan buku ini adalah kisah Onyang (orang tua dari atok /kakek) saya sendiri, namun saya masih belum yakin dan meneruskan membaca kalimat berikutnya, sebagai berikut :
*Ia adalah putra Tengku Bendahara Paduka Raja Kerajaan Langkat. Meninggal pada tanggal 20 Maret 1946 sebagai korban revolusi sosial yang bergolak di Kuala Bingai (sepuluh kilo meter dari Binjai) Sumatera Utara.
Ya Allah, ini onyang Hamzah!! teriak saya dalam hati, mengapa penulis atau editor ini tak menuliskan namanya dengan lengkap? Kenapa Tengku dibelakang namanya dihilangkan?!. Nama Amir Hamzah banyak digunakan orang, dan ada juga kisah Amir Hamzah pada cerita Persia berjudul Qissa il Emir Hamzah di zaman Nabi Ibrahim AS, kami orang Melayu mengenalnya sebagai buku Hikayat Amir Hamzah. Memang ada foto terpampang di covernya tapi saya tidak kenal dan memang tidak pernah lihat foto onyang Hamzah sebelumnya, saya kira itu adalah foto pak Abrar Yusra yang menjadi editor.
