Jika dibaca seluruh isinya tanpa—mengutip pernyataan Gubernur Kalbar bersifat “tendensius”, maka tidak akan tampak bahwa SH-II tidak patriotik kepada Indonesia. Jika dibaca dengan sabar seluruh lembar, maka justru sebaliknya terang benderang Hamid II Alkadrie itu patriotis sejati. Nasionalis tulen. Lihat pengakuan ahli sejarah Kalbar Drs H Soedarto bahwa Hamid selalu memikirkan rakyat (h-140), Uun Mahdar, SH yang meneliti aspek hukum hak cipta Lambang Negara Hamid itu federalis, tapi nasionalis (h-141), tokoh adat Dayak Baroamas Djabang Balunus Massuka Djanting bahwa Hamid itu orang baik, pandai bergaul.
Pengakuan senada Djanting dikemukakan wartawan senior Rosihan Anwar. Bahkan peneliti SH-II dalam KMB, Denny Amiruddin, SH tegas menyatakan, “Jangan kita dibutakan sejarah.” (H-148).
Begitupula lampiran foto. Lampiran foto pertama (h-150) menampilkan wajah Hamid dari masa ke masa dan wajahnya di antara desain lambang negara karyanya. Foto yang dikritisi Prof Anhar di halaman 154 tidak ilmiah jika dibaca parsial lalu dibumbui opini sepihak dalam menilai sikap patriotisme seseorang. Semua foto mesti dibaca utuh sebagai perjalanan hidup dan sikap seseorang.
