Kemelut isi surat Kemensos yang bernada penolakan atas usulan Sultan Hamid pahlawan nasional “diributkan” Yayasan Sultan Hamid. Terbit sebagai headline di beberapa koran daerah, termasuk di Indo Pos, Jakarta. Ini cikal bakal merebaknya pengetahuan publik atas perjuangan Hamid, di mana ketiga anasir isi surat “penolakan” dijawab tuntas oleh Yayasan Hamid. Kekuatan media konvensional diperkuat media sosial di mana lewat dunia maya bisa segera viral.
Yayasan Hamid sejak saat itu lebih pro-aktif mensosialisasikan etos kejuangan Sultan Hamid sebagai Perancang Lambang Negara dan diakuinya kedaulatan RI lewat Konferensi Meja Bundar.
Hasil kerja-kerja itulah yang kemudian disambut Prof Dr AM Hendropriyono dengan Agama Akal TV yang membuat trending topik nasional selama lebih seminggu terakhir ini. Bahwa katanya sudah viral di medsos bahwa Sultan Hamid II Pahlawan Nasional, padahal Sultan Hamid II itu pengkhianat bagi bangsa dan negara.
Viral berbalas viral. Webinar berbalas webinar di tengah pandemi Covid-19.
Menonton webinar Prof Anhar Gonggong kepada para guru, saya tidak kecoh. Komentar saya kepada dosen yang me-WA, “Alhamdulillah apa yang kita lakukan didengar seluruh Indonesia. Gemanya kuat menghentak. Bahkan Dewan Gelar sudah diterima Presiden Jokowi di Istana Bogor. Ada Prof Anhar Gonggong di situ.”
