Opini

Benarkah Sultan Hamid Tidak Patriotis lantaran jadi Ajudan Ratu Wilhelmina?

Benarkah Sultan Hamid Tidak Patriotis lantaran jadi Ajudan Ratu Wilhelmina?

Turut hadir dalam acara spesial itu guru besar sosiologi Untan Prof Dr Syarif Ibrahim Alkadrie, sekretaris pribadi Sultan Hamid Max Jusuf Alkadrie, jurnalis senior Kalbar cum akademisi Dr Yusriadi, dan 500-an undangan. Turut hadir Kapolri Jenderal Timur Pradopo serta para mantan Kapolri.

Ketika tampil membedah buku, dengan gaya bicaranya yang memukau, Anhar menyarankan agar kisah Jusuf Mangga difilmkan. Kenapa? Kisah heroik merebut TVRI di Timtim dengan aksi baku-tembaknya amat menarik bagi perjuangan insan Bhayangkara. Terutama dari sudut pandang aparat militer/TNI, atau kamtibmas di pundak Polri.

Saya tentu senang dengan ulasan ini. Apalagi menurutnya, gaya penulisan kisah itu sastrawi. Kembang kempis hidung saya dibuatnya. Apalagi beberapa aktivis jurnalisme sastrawi seperti Imam Safwan yang satu angkatan pelatihannya dengan saya di angkatan ke-9, diampu Andreas Harsono dan Prof Janet Steele turut hadir. Begitulah Prof Dr Anhar Gonggong yang saya kenal.

Saya dengar Prof Dr Anhar Gonggong duduk di Dewan Gelar yang tugasnya menyeleksi usulan-usulan Pahlawan Nasional RI. Saya juga mendengar, bahwa yang paling keras menolak usulan Sultan Hamid II menjadi pahlawan nasional adalah pria nyentrik dengan rambut sebahu itu.

Saya tidak begitu yakin, sosok yang saya kenal sederhana itu begitu keras menolak. Saya diburu rasa ingin tahu di mana alasannya.