Nah, untuk ulasan sejarahwan, sebenarnya banyak usulan nama. Mulai dari guru besar sejarah di LIPI Prof Dr Asvi Warman Adam hingga budayawan-sastrawan Radhar Panca Dahana. Atas pilihan itu Wakapolri mengeksekusi nama tersendiri, “Udah, itu saja….siapa itu, sejarawan asal Sulawesi yang berambut gondrong dari UI?”
Perwira-perwira Bhayangkara koor mengingat nama guru besar yang selalu tampil nyentrik dengan rambut panjangnya tergerai sebahu, “Prof Anhar Gonggong…”
“Iya. Itu!” sahut Jusuf Mangga yang duduk bersama para perwira di meja jati oval ruang tamu–ruang kerja Wakapolri–bersebelahan dengan patung raksasa Mahapatih Gajahmada di luar jendela. Patung hitam yang sakral Gajahmada masih dapat dilihat dari Jalan Untung Suropati sampai Blok M Square.
Saya menghubungi Prof Anhar Gonggong via telepon. Saya sampaikan salam dari Wakapolri yang memintanya secara khusus sebagai pembedah buku biografi yang saya kasih judul, “Jusuf Manggabarani Cahaya Bhayangkara.”
Telepon saya diangkat dengan nada Makassar. Saya tak asing dengan aksentuasi spesial itu karena juga turunan dari tanah Sulawesi bagian Selatan. Tanah Bugis. Ayah-ibu saya Bugis. Juga saya meliput di Makassar dalam rangka mendapatkan kisah detail siapa sosok Jusuf Manggabarani.
