Sultan Hamid itu nasionalis. Ia Indonesianis sejati. Mari kita lihat tuduhan makar kepadanya dengan Peristiwa Westerling di 23 Januari 1950 di Bandung yang menyebabkan Hamid kehilangan jabatannya sebagai Menteri Negara Kabinet RIS.
Pemberontakan APRA dilakukan oleh Westerling. 79 tewas saat itu. Dominan tentara divisi Siliwangi.
Siapakah Westerling itu? Dia adalah perwira pasukan khusus yang didatangkan Belanda ke Medan dan Sulawesi. Di Sulawesi tahun 1946 Westerling membunuh warga lokal dengan alasannya para korban itu sebagai pengacau. Eksekusi pasukan khusus di bawah komando Westerling ini biadab sekali, yakni tembak di tempat. Di hadapan publik pula.
Namun atas kebiadabannya Westerling dipecat dari Pasukan Khusus Belanda. Ia kemudian hijrah ke Sukabumi. Di sana dia bertani dan menggalang pemberontakan atas nama Angkatan Perang Ratu Adil (APRA). Umur Westerling nyaris seusia dengan TB Simatupang. Sama-sama di bawah Sultan Hamid. Terpaut 7 tahun.
Secara kesatuan, antara Hamid yang KNIL dengan Westerling yang Specialist Troopen (Pasukan Khusus) tidaklah saling sambung. Westerling bukan garis komando dari Sultan Hamid di Angkatan Darat. Bahwa keduanya pernah bertemu di Hotel Des Indes iya, sebab hotel yang kini bernama Duta Merlin paling mewah di Jakarta saat itu dan Hamid berdomisili di sana.
