Opini

Sultan Hamid Berjuang untuk Indonesia Meski Kehilangan Dua Mahkota

Sultan Hamid Berjuang untuk Indonesia Meski Kehilangan Dua Mahkota

Hamid sekeluar penjara menemukan bahwa keluarga besarnya di Kesultanan Qadriyah telah dibantai secara sadis dan kejam oleh Dai Nippon Jepang. Jenazah ayahnya, Sultan Muhammad, sosok yang banyak membawa kemajuan atas Pontianak dan Kalimantan Barat dalam hal perdagangan dan tata kota, baru ditemukan akhir tahun 1945 atau awal tahun 1946. Pembantaian Jepang secara sistematis di Pontianak dengan bom sembilan terjadi di hari Jumat tahun 1941. Pembantaian tokoh Kalbar termasuk Kesultanan Qadriyah sejak 1942-1944.

Sultan Hamid praktis meneruskan kerajaan Pontianak sebagai Sultan Ketujuh. Kesultanan ini sekali lagi negara berdiri sendiri, tak ada juntrungannya dengan tuduhan Hamid tidak nasionalis karena mendapat kenaikan pangkat sebagai Mayjen KNIL dari Ratu Wilhelmina dan mendapat tugas sebagai pengawal khusus Ratu Belanda Wilhelmina. Fungsi pengawal khusus itu adalah sebagai Sultan yang berkuasa penuh atas negara yang dipimpinnya yakni Kesultanan Pontianak jika Wilhelmina ke Pontianak karena hubungan bilateral dua negara. Fungsi pengawal khusus dalam konteks Sultan Hamid II Sultan Ketujuh Pontianak disebut dalam buku Persatoean Djaksa (Persadja) dengan Judul Peristiwa Sultan Hamid. Terbit 1953 dan cetak ulang tahun 1955.