Opini

Sultan Hamid Berjuang untuk Indonesia Meski Kehilangan Dua Mahkota

Sultan Hamid Berjuang untuk Indonesia Meski Kehilangan Dua Mahkota

Dr Van Mook sendiri adalah Belanda peranakan yang besar di Surabaya yang lebih cenderung sebagai ilmuan tata negara. Menurutnya negara kepulauan Nusantara lebih cocok berbentuk federal. Van Mook kemudian menemui ajalnya sebagai tenaga pengajar di Perancis. Bukan di Indonesia, bahkan bukan di Belanda. Untuk itu, tuduhan negara boneka bentukan Van Mook jauh dari aras logis historis. Peneliti Lambang Negara Desmon S Andrian selaku kurator di Museum Konferensi Asia Afrika yang bernaung di bawah Kemenlu RI menyatakan anasir bahwa BFO adalah negara boneka buatan Belanda praktis gugur. Sebab dalam kenyataannya BFO sangat berpihak kepada Negara Proklamasi dan tidak bisa dikendalikan oleh Belanda.
Ide federal yang sama juga dianut oleh Mohammad Hatta. Wajarlah Hatta sangat akrab dengan Hamid hingga akhir hayat keduanya. Hamid wafat pada 30 Maret 1978, sedangkan Hatta pada tahun 1980.

Dalam sejarah tata negara Indonesia yang “dipaksakan” berbentuk kesatuan tidaklah aneh jika kemudian Hatta menyatakan dirinya mundur sebagai Wapres mendampingi dwi tunggal Soekarno. Kenapa mundur? Karena Soekarno tidak lagi mau kompromi. Ia keras berhaluan kesatuan (unitaris). Saat terus dibakar api revolusi dengan asumsi semua Nusantara adalah jajahan Belanda sehingga mereka bisa disatukan sesuai alasan psikologis, yakni sesama bangsa terjajah.