Hatta sebagai dwi tunggal pun tak tahan dengan cara pikir Soekarno saat itu. Hatta tahu dan paham, bahwa Nusantara tidak seluruhnya dijajah Belanda, termasuk Kesultanan Qadriyah yang dipimpin sahabatnya, Hamid. Hatta juga mengalami persekusi dari Negara saat hidupnya. Namun Hatta sama dengan Hamid, tidak haus akan kekuasaan. Justru ikhlas memberikan yang terbaik kepada Negara Indonesia melalui sumbangsih pemikiran sampai akhir hayatnya.
Hal serupa terjadi kepada Kepala Staf Angkatan Perang TB Simatupang. Pak Sim yang alumni Akademi Militer Belanda di Bandung nan cerdas juga dipensiun-dinikan oleh Soekarno, padahal Pak Sim berjasa besar dalam penataan KNIL maupun TNI yang kelak menjadi ABRI.
TB Simatupang dipensiun-dinikan oleh Soekarno akibat jenderal pengganti Soedirman ini rajin mengkritik Soekarno yang tidak pernah pendidikan militer namun sangat bangga berbaju militer. Maksud Pak Sim, agar Soekarno memegang supremasi sipil sebagai Presiden di mana militer hormat kepadanya bukan karena seragamnya, tapi karena kepresidenannya. Pak Sim justru dihukum ala hukuman politik sang penguasa.
Puncaknya, saat Soekarno memberhentikan AH Nasution sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Darat tanpa sepengetahuan TB Simatupang selaku Kepala Staf Angkatan Perang. Pak Sim membanting pintu Istana Merdeka sampai engselnya nyaris copot. Tak pelak, jabatan Pak Sim pun dicopot 9 tahun setelah peristiwa itu (1952) tanpa jabatan berarti.
