Data kebaikan Sultan Hamid tak terperi bagi Bangsa Indonesia. Sutan Syahrir pun mengakuinya kala menderita stroke di masa tahanan politik akibat Peristiwa Ngaben. “Penilaian saya selama ini keliru terhadap Hamid. Ternyata dia orang yang sangat baik,” begitu kata Syahrir dalam biografi Hamid Algadrie.
Hamid orang baik, sabar, ikhlas dan kesatria. Ia lebih dulu memaafkan Soekarno atas segala kesalahan semasa pertemanannya sesama founding fathers Indonesia. Hamid membesuk Soekarno menjelang akhir hayat Sang Proklamator pada Juni 1970. Ia memangku dan membawanya berzikir ilallah. Peristiwa ini ditulis Sekretaris Pribadi Sultan Hamid, Max Jusuf Alkadrie dan dimuat dalam memoar 100 tahun Bung Karno.
Jiwa nasionalisme Hamid dapat disaksikan dalam video pidato HUT Kemerdekaan RI di Amsterdam, Belanda, 1949. Juga dalam Konferensi Inter Indonesia 1 dan 2, hingga KMB. Bagi pembelajar sejarah Hamid II Alkadrie adalah Pahlawan Bangsa. Sebagai pembanding, TB Simatupang yang berseberangan pikiran dengan Bung Karno tak mau menemuinya sampai Bung Karno wafat telah ditetapkan negara sebagai Pahlawan Nasional. Begitupula HB-IX serta Hatta. Lalu kini kita sadar, sudah saatnya Sultan Hamid II Alkadrie juga ditetapkan negara sebagai Pahlawan Nasional. *
